Jakarta (Humas Kemenag DKI) --- Pagi itu, Jakarta Utara bukan sekadar basah. Ia tenggelam dalam genangan yang menelan jalan, halaman rumah, dan harapan banyak orang untuk beraktivitas normal. Namun di tengah air yang naik perlahan seperti ingin menelan segalanya, satu hal justru berdiri tegak: pelayanan negara. Di sebuah Kantor Urusan Agama (KUA) Pademangan, pintu tetap dibuka, meja tetap disiapkan, dan niat baik tetap dijaga—karena hari itu, janji suci tak boleh ditunda.
Bagi pasangan calon pengantin, banjir bukan sekadar gangguan cuaca. Ia adalah ujian mental, logistik, dan keyakinan. Jalan menuju KUA terputus, kendaraan tertahan, pakaian basah kuyup. Namun di balik kecemasan itu, ada kabar yang menenangkan: petugas KUA memastikan akad tetap dilangsungkan. Tidak ada kalimat penolakan. Tidak ada alasan untuk menunda. Yang ada hanyalah komitmen: pelayanan harus jalan.
Petugas KUA datang lebih awal, menerobos genangan dengan sepatu basah dan celana digulung. Mereka menyiapkan ruang akad seadanya, memastikan dokumen aman dari air, memastikan saksi hadir, memastikan negara tidak absen. Di saat sebagian kantor memilih menutup layanan, KUA ini justru memilih membuka pintu lebih lebar—seolah berkata bahwa cinta warga negara tak boleh karam oleh banjir.
Akad nikah berlangsung khidmat. Di luar, hujan menampar atap tanpa ampun. Di dalam, suara ijab kabul menggema, lebih lantang dari gemuruh air. Tidak ada dekor mewah, tidak ada karpet kering sempurna. Namun ada kehadiran negara yang nyata: tertib, sabar, dan penuh empati. Di tengah situasi darurat, pelayanan tidak berubah menjadi dingin atau kaku—justru semakin manusiawi.
Keluarga pengantin terharu. Bukan hanya karena anak mereka menikah, tetapi karena menyaksikan aparat negara bekerja bukan dari balik meja, melainkan dari tengah banjir. Bagi mereka, ini bukan sekadar pelayanan administratif, melainkan bukti bahwa negara hadir saat warganya paling membutuhkan.
Pelayanan KUA hari itu mengajarkan satu hal penting: profesionalisme tidak berhenti ketika situasi memburuk. Justru di situlah kualitas pelayanan diuji. Tanpa sorotan kamera besar, tanpa protokol khusus, para petugas memilih bertahan. Mereka memastikan hak warga negara tetap terpenuhi, meski sepatu tak lagi kering dan jam kerja tak lagi relevan.
Usai akad, air belum sepenuhnya surut. Namun wajah-wajah di ruangan itu terang. Ada rasa lega, ada rasa bangga. Pernikahan hari itu bukan hanya tentang dua insan, tetapi tentang negara yang tidak lari dari tanggung jawabnya.
Di tengah banyaknya keluhan publik soal layanan, kisah ini menjadi pengingat yang tajam: masih ada aparatur yang bekerja melampaui batas formal. Mereka tidak bersembunyi di balik prosedur, melainkan menjadikannya alat untuk melayani.
Bagi pasangan pengantin, hari itu akan dikenang bukan karena banjirnya, tetapi karena pelayanan yang tidak menyerah. Sebuah pernikahan yang sah, dan sebuah pelayanan yang bermartabat.
“Pelayanan KUA hari ini luar biasa. Ini bukan hanya soal menikah, tapi soal bagaimana negara hadir untuk warganya, bahkan di kondisi paling sulit,” pungkas pasangan Epin Khaerudin dan Fenny Dwi Yunianti usai melangsungkan ijab kabul.