Berita

Penyuluh Agama Islam Kankemenag Jakarta Utara Uraikan Makna “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”

Rabu, 12 Agustus 2026
Dibaca 21 kali
blog

Penyuluh Agama Islam

Jakarta (Humas Kankemenag Jakarta Utara) — Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Jakarta Utara, Agus Ariyanto, menguraikan makna, hikmah, dan pesan spiritual Surah Al-Fatihah ayat 5 dalam kajian rutin bulanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Senin (20/7/2026).

 

Dalam kajiannya, Agus menjelaskan bahwa Surah Al-Fatihah memiliki kedudukan penting sebagai pembuka Al-Qur’an. Menurutnya, salah satu inti pesan Surah Al-Fatihah tercermin dalam ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, yang bermakna hanya kepada Allah manusia menyembah dan hanya kepada-Nya memohon pertolongan.

 

“Surah Al-Fatihah itu inti dan rahasia Al-Qur’an. Inti dan rahasianya terletak pada ayat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in,” ujar Agus.

 

Ia menerangkan, kata na’budu bermakna menyembah atau beribadah, sedangkan nasta’in berarti memohon pertolongan. Menurut Agus, frasa Iyyaka na’budu mengandung pesan ketundukan dan penghambaan kepada Allah SWT, sementara Iyyaka nasta’in mengajarkan sikap berserah diri dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

 

“Iyyaka na’budu merupakan bentuk pelepasan diri dari kemusyrikan. Sedangkan Iyyaka nasta’in merupakan bentuk penyerahan daya dan kekuatan kepada Allah serta pembebasan diri dari kesombongan dan keangkuhan atas kemampuan selain Allah SWT,” jelasnya.

 

Agus juga menjelaskan bahwa penyebutan Iyyaka na’budu didahulukan daripada Iyyaka nasta’in. Menurutnya, susunan tersebut mengandung pesan bahwa ibadah kepada Allah merupakan tujuan utama, sedangkan memohon pertolongan kepada-Nya menjadi sarana untuk menjalankan ibadah.

 

“Allah didahulukan sebagai tujuan pengabdian, sedangkan meminta pertolongan kepada-Nya menjadi sarana dalam menjalankan ibadah. Karena itu, didahulukanlah hal yang lebih utama,” urainya.

 

Lebih lanjut, Agus menguraikan tiga tingkatan pemaknaan na’budu, yakni menghamba, menyembah, dan mengabdi. Ketiganya menggambarkan proses peningkatan kualitas penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT.

 

Tingkatan pertama, kata Agus, adalah seorang hamba yang beribadah karena rasa takut terjerumus ke dalam neraka. Pada tahap ini, seseorang menjalankan ketaatan sebagai bentuk menjaga diri dari ancaman siksa, sebagaimana pesan yang terkandung dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.

 

Tingkatan kedua adalah beribadah dengan dilandasi rasa cinta kepada Allah dan harapan memperoleh surga. Menurut Agus, pada tingkatan ini seorang hamba mulai menghadirkan kecintaan dan harapan sebagai bagian dari motivasi dalam menjalankan ibadah.

 

“Adapun tingkatan ketiga merupakan tingkatan na’budu yang paling tinggi, yakni seorang hamba beribadah semata-mata mengharap keridaan Allah SWT dengan penuh keikhlasan,” ungkapnya.

 

Agus menjelaskan, tingkatan tersebut mengajarkan seorang Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah, dari sekadar menjalankan kewajiban hingga mencapai keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah SWT.

 

Menutup kajiannya, Agus menekankan bahwa na’budu merupakan gambaran keikhlasan dalam beribadah, sedangkan nasta’in mencerminkan sikap tawakal yang menjauhkan seseorang dari sifat ujub atau membanggakan diri dan kesombongan.

 

“Semakin banyak ibadah yang ikhlas kita lakukan kepada-Nya, maka semakin banyak rahmat dan pertolongan Allah SWT yang akan diberikan kepada hamba-Nya,” pungkas Agus.

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor