Berita

Penyuluh Agama KUA Cilincing Perluas Syiar melalui Dakwah Digital

Rabu, 12 Agustus 2026
Dibaca 18 kali
blog

Jakarta (Humas Kankemenag Jakarta Utara) — Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Cilincing, Rustini Indriani, memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan dakwah melalui siaran langsung (live streaming) pada platform video pendek. Inovasi tersebut menjadi salah satu upayanya menghadirkan syiar agama yang adaptif dengan perkembangan teknologi dan karakter masyarakat di era digital.

 

Rustini mengatakan, dakwah melalui live streaming memberikan ruang interaksi secara langsung dengan jamaah atau audiens. Format tersebut juga memungkinkan pesan keagamaan disampaikan secara ringkas, menarik, dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

 

“Aktivitas dakwah live streaming di SnackVideo ini sudah berjalan sejak Mei 2026, terjadwal satu sampai dua kali per minggu. Bahkan, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI mengapresiasi para Penyuluh yang melakukan gerakan dakwah digital ini,” terang Rustini.

 

Menurutnya, sejak memanfaatkan platform digital tersebut, jangkauan dakwah yang dilakukan semakin luas. Selain menyampaikan materi keagamaan, Rustini juga memperkenalkan aktivitasnya sebagai Penyuluh Agama Islam kepada masyarakat melalui konten digital.

 

Dalam setiap sesi siaran, Rustini membahas sejumlah tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti akidah dan akhlak, keluarga, serta isu aktual yang tengah menjadi perhatian publik. Sesi tersebut dikemas dalam bentuk monolog, kuis, tanya jawab, hingga doa penutup.

 

“Biasanya saya membahas seputar akidah akhlak, keluarga, dan isu-isu hangat yang sedang ramai dibicarakan secara monolog selama 30 menit yang dibuka dan dipandu oleh MC. Ada kuis, ruang tanya jawab, dan doa penutup,” jelasnya.

 

Ia menilai interaksi langsung melalui media sosial dapat membuat suasana dakwah lebih hidup. Audiens tidak hanya menerima materi, tetapi juga memiliki kesempatan menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi.

 

Meski demikian, Rustini mengingatkan bahwa keberhasilan dakwah digital tidak semata-mata dapat diukur dari jumlah penonton atau viewers. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pesan yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan mendorong perubahan positif dalam kehidupan masyarakat.

 

“Tentu ada plus dan minusnya. Keberhasilan dakwah di media sosial tentu tidak bisa diukur dengan jumlah viewers saja. Kita berharap apa yang mereka dengar tentu bisa bermanfaat dalam keseharian,” ujarnya.

 

Menurut Rustini, terdapat perbedaan antara dakwah melalui media sosial dan majelis taklim. Dalam majelis taklim, pendakwah dapat lebih mudah melihat dampak materi melalui aktualisasi atau program yang dijalankan jamaah. Sementara di ruang digital, dampak tersebut membutuhkan proses dan tidak selalu dapat terlihat secara langsung.

 

Kendati demikian, ia menilai pemanfaatan media sosial untuk memperluas syiar merupakan sebuah keniscayaan di tengah perkembangan teknologi. Penyuluh Agama Islam, kata Rustini, perlu terus beradaptasi agar pesan keagamaan dapat menjangkau masyarakat, termasuk generasi yang aktif menggunakan ruang digital.

 

Ia menyebut gerakan dakwah digital juga telah mendapat perhatian dari Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama melalui berbagai penguatan kapasitas teknologi informasi bagi Penyuluh Agama.

 

Rustini mengungkapkan, keinginan memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah sebenarnya telah muncul sejak lama. Namun, keterbatasan perangkat sempat membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan secara optimal.

 

“Sebetulnya cita-cita saya sejak lama ingin membuat sarana dakwah digital (live streaming) seperti ini, namun keterbatasan alat membuat mimpi ini seolah berhenti sejenak. Ini menjadi PR saya dan kawan-kawan Penyuluh Agama lainnya,” pungkas Rustini.

 

Pemanfaatan media digital oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Cilincing tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan dan edukasi keagamaan yang semakin dekat dengan masyarakat. Dakwah digital diharapkan dapat menjadi ruang alternatif untuk memperkuat literasi keagamaan yang moderat, relevan, dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor