Berita

Workshop Kurikulum Berbasis Cinta di MAN 21 Jakarta Bekali Guru Susun Pembelajaran Mendalam

Rabu, 15 Juli 2026
Dibaca 25 kali
blog

Iwn Suyawan Saat Memberi Materi Pembuatan Modul KBC

Jakarta (Humas MAN 21 Jakarta) — Workshop Kurikulum Berbasis Cinta di MAN 21 Jakarta memasuki sesi materi pada pagi hari dengan menghadirkan narasumber Iwan Suyana di ruang multimedia, yang membahas penguatan pola pikir (growth mindset) serta implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai landasan penyusunan kurikulum dan modul ajar.

 

Dalam paparannya, Iwan Suyana menegaskan bahwa keberhasilan peserta didik tidak semata-mata ditentukan oleh capaian akademik saat berada di bangku sekolah. Menurutnya, banyak lulusan yang tidak selalu memperoleh nilai tertinggi, namun mampu menjadi pemimpin, birokrat, maupun tokoh di berbagai bidang karena memiliki pola pikir yang terus berkembang.

 

"Kesuksesan tidak ditentukan oleh nilai saat SMA, tetapi oleh mindset. Karena itu, guru tidak hanya berfokus pada peserta didik dengan IQ tinggi, melainkan memberi ruang kepada setiap anak untuk berkembang sesuai potensi dan kecerdasannya," ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa pola pikir dapat dibentuk melalui perilaku, kebiasaan, karakter, dan sikap. Nilai-nilai positif yang terus dibiasakan akan melahirkan karakter yang tercermin dalam tindakan sehari-hari tanpa harus menunggu penghargaan atau pengakuan.

 

Lebih lanjut, Iwan mengaitkan konsep tersebut dengan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mulai diterapkan sebagai pendekatan pembelajaran pada tahun 2025. Menurutnya, pendekatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan growth mindset peserta didik melalui proses belajar yang mendorong keberanian menghadapi tantangan, belajar dari kesalahan, menghargai proses, menerima kritik sebagai bahan perbaikan, serta bersikap realistis dalam mencapai tujuan.

 

Dalam sesi tersebut, ia juga menyampaikan prinsip Teaching is a Practice, Not a Perfection sebagai pengingat bahwa mengajar merupakan proses pembelajaran yang terus berkembang. Guru, kata dia, perlu menguasai struktur kurikulum, konsep pembelajaran mendalam, capaian pembelajaran, asesmen, serta Kurikulum Berbasis Cinta sebagai satu kesatuan dalam pelaksanaan pembelajaran.

 

Pada pembahasan struktur kurikulum, Iwan mengingatkan pentingnya memahami alokasi jam pembelajaran sebelum menyusun capaian pembelajaran dan modul ajar. Pemahaman terhadap struktur kurikulum menjadi dasar dalam menentukan ruang lingkup materi dan penyusunan tujuan pembelajaran secara sistematis.

 

Ia juga menegaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan dilakukan melalui metode menghafal atau latihan soal secara berulang, melainkan melalui pendekatan pedagogis yang mengedepankan pengalaman belajar bermakna. Implementasinya dilakukan dengan menentukan metode pembelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, membangun kemitraan pembelajaran, serta memanfaatkan teknologi digital.

 

Menurutnya, pembelajaran mendalam berlandaskan tiga prinsip utama, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Ketiga prinsip tersebut selanjutnya mendukung penguatan delapan profil lulusan, meliputi keimanan, kewarganegaraan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, kesehatan, komunikasi, dan kemandirian.

 

Dalam penyusunan perangkat ajar, Iwan menjelaskan bahwa guru perlu menyusun capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, hingga modul ajar secara berurutan. Setiap tujuan pembelajaran disusun dalam satu fase pembelajaran, dilaksanakan melalui beberapa kali pertemuan, disertai asesmen formatif selama proses belajar dan asesmen sumatif pada akhir pencapaian tujuan pembelajaran.

 

Ia menambahkan bahwa asesmen dalam kurikulum tersebut tidak lagi berorientasi pada angka semata, tetapi menggunakan deskripsi yang menggambarkan capaian kompetensi peserta didik secara lebih komprehensif.

 

Melalui workshop ini, para guru MAN 21 Jakarta diharapkan semakin memahami prinsip-prinsip Kurikulum Berbasis Cinta dan mampu menyusun perangkat pembelajaran yang mendukung terciptanya proses belajar yang bermakna, berpusat pada peserta didik, serta selaras dengan arah kebijakan pendidikan Kementerian Agama.

 

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor