Pulau Tidung, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Dalam rangka melaksanakan program kerja pembinaan umat, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan kembali menggelar kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan bagi masyarakat Pulau Tidung. Kegiatan tersebut berlangsung di Mushola Nurul Hikmah yang dilaksanakan selepas salat Subuh berjamaah, pada Kamis (22/1/2026).
Penyuluhan keagamaan ini mengangkat tema “Targhib Ramadan dan Esensi Salat Berjamaah”, sebagai bentuk persiapan spiritual umat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kegiatan diikuti oleh jamaah bapak-bapak setempat dengan penuh antusias.
Kegiatan penyuluhan disampaikan oleh dua Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, yakni Nurcholis dan Hilmani. Program ini bertujuan untuk memberikan penguatan pemahaman keagamaan serta membangun kesadaran ibadah masyarakat, khususnya menjelang Ramadan.
Dalam penyampaiannya, Nurcholis menekankan pentingnya memahami Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas iman dan ketakwaan, bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan yang bersifat seremonial.
“Ramadan adalah kesempatan besar yang Allah berikan kepada kita untuk memperbaiki diri. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana membangun kesadaran iman dan ketakwaan, agar setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat,” ujar Nurcholis.
Ia juga mengajak jamaah untuk mempersiapkan Ramadan sejak dini dengan memperbaiki kualitas ibadah, menjaga niat yang lurus, serta memperbanyak amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Orang yang beruntung adalah mereka yang menyambut Ramadan dengan kesiapan iman dan ilmu, sehingga setiap ibadah yang dilakukan bernilai pahala dan membawa perubahan nyata dalam akhlak,” tambahnya.
Sementara itu, Hilmani dalam materinya menyoroti pentingnya salat berjamaah sebagai ibadah yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki dampak spiritual dan sosial yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat.
“Salat berjamaah bukan hanya soal pahala yang lebih besar, tetapi juga melatih kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian antar sesama. Masjid yang hidup dengan jamaah adalah cerminan masyarakat yang sehat secara spiritual,” jelas Hilmani.
Ia berharap, melalui pembiasaan salat berjamaah, nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dapat terus terjaga dan menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
“Jika salat berjamaah sudah menjadi kebiasaan, insyaAllah akan lahir masyarakat yang saling peduli, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, para jamaah diajak untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum membiasakan ibadah secara konsisten, khususnya salat berjamaah, serta menjaga keberlanjutan ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya terbatas pada bulan Ramadan semata.