Jakarta Utara (Humas Kankemenag Jakarta Utara) — Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Madrasah Ibtidaiyah Tahun Ajaran 2026/2027 telah dimulai sejak awal tahun, dengan ketentuan usia minimal 6 tahun per 1 Juli 2026. Proses pendaftaran umumnya dilakukan secara daring melalui laman resmi madrasah maupun Kementerian Agama, meliputi tahapan administrasi, tes kemampuan dasar, hingga daftar ulang.
Di tengah tren digitalisasi tersebut, MI Nur At-Taqwa Kelapa Gading Jakarta Utara justru menghadirkan pendekatan berbeda dengan mengedepankan strategi konvensional yang dinilai efektif dalam menarik minat masyarakat.
Kepala MI Nur At-Taqwa, Amir Mahmud, mengungkapkan bahwa pihaknya secara konsisten menampilkan berbagai aktivitas religius dan prestasi siswa secara langsung kepada masyarakat sebagai bentuk promosi yang autentik.
“Kami menerapkan cara konvensional namun efektif untuk menarik minat siswa baru tanpa biaya besar setiap tahunnya,” ujar Amir saat ditemui tim Humas.
Ia menjelaskan, selain memanfaatkan media sosial, madrasah juga membuka ruang interaksi langsung dengan masyarakat melalui kegiatan rutin siswa. Salah satunya adalah pelaksanaan salat dhuha berjamaah di lapangan madrasah yang dapat disaksikan langsung oleh warga sekitar.
“Melalui kegiatan tersebut, masyarakat bisa melihat secara nyata pembiasaan karakter religius siswa di madrasah,” jelasnya.
Amir menilai, pendekatan ini menjadi bentuk transparansi sekaligus strategi komunikasi yang mampu membangun kepercayaan publik. Meski terkesan sederhana, metode ini dinilai efektif dalam menunjukkan nilai-nilai pendidikan yang diterapkan di madrasah.
“Ini semacam ‘riya’ yang positif, dalam arti memperlihatkan kebaikan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Cara ini terbukti mampu menarik minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di madrasah,” tambahnya.
Selain itu, MI Nur At-Taqwa juga mengembangkan inovasi promosi melalui kegiatan Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami Kreatif) dengan konsep Wide Game. Dalam kegiatan ini, siswa dilibatkan secara aktif untuk berinteraksi dengan masyarakat.
“Wide Game adalah permainan kepramukaan berbasis pencarian jejak yang kami kemas sebagai ajang promosi. Siswa dilatih untuk bertamu dengan santun sambil menyampaikan informasi tentang keunggulan madrasah,” terang Amir.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya dilatih keterampilan kepramukaan, tetapi juga kemampuan komunikasi, adab, dan kepercayaan diri. Bahkan, siswa menjadi duta madrasah yang secara langsung menyampaikan pengalaman belajar mereka kepada masyarakat.
“Dengan cara ini, masyarakat dapat menilai langsung dari siswa tentang kualitas madrasah. Ini menjadi promosi yang sangat efektif karena berbasis pengalaman nyata,” ujarnya.
Amir menambahkan, pendekatan berbasis kedekatan emosional antara madrasah dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan strategi tersebut. Kepercayaan yang terbangun secara alami dinilai lebih kuat dibandingkan promosi berbasis iklan semata.
“Jalinan kedekatan dengan masyarakat adalah promosi terbaik. Ini menjadi ikhtiar kami untuk terus menjaga eksistensi madrasah di tengah persaingan yang semakin ketat,” pungkasnya.
Dengan strategi tersebut, MI Nur At-Taqwa terus menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi, melainkan dapat tumbuh dari pendekatan sederhana yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.