Jakarta (Humas Kankemenag Kota Jakarta Timur) — Pembelajaran di Raudhatul Athfal (RA) dapat dimulai dari persoalan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. Pendekatan tersebut dinilai mampu membangun pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik.
Hal itu disampaikan Ketua III Bidang Pendidikan PP IGRA Nasional sekaligus Asesor Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Nova Indriati, saat menjadi narasumber Workshop Penyusunan Modul Ajar bagi 640 guru RA se-Kota Jakarta Timur di Aula Besar Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Timur, Rabu (12/8/2026).
Dalam pemaparannya, Nova mengenalkan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL) sebagai salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di RA. Melalui PBL, anak diajak menghadapi persoalan nyata, mengidentifikasi masalah, berdiskusi, mencari solusi, mencoba berbagai alternatif, hingga menyimpulkan hasil dengan pendampingan guru.
Menurut Nova, PBL tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan mengambil keputusan sederhana sesuai dengan tahap perkembangan anak.
“Guru bukan sekadar memberikan jawaban, tetapi memfasilitasi anak agar mereka menemukan dan mencoba solusi melalui proses berpikir dan eksplorasi,” jelas Nova.
Ia menjelaskan, karakteristik utama PBL adalah pembelajaran dimulai dari masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Dalam prosesnya, anak diberi kesempatan untuk aktif mengeksplorasi persoalan, sementara guru berperan sebagai fasilitator melalui pertanyaan-pertanyaan pemantik.
Nova memberikan sejumlah contoh penerapan PBL di lingkungan RA. Ketika anak menemukan halaman sekolah dipenuhi sampah daun, misalnya, guru dapat mengajak mereka berdiskusi untuk mencari cara membersihkan halaman. Contoh lainnya adalah mengajak anak mencari solusi agar tanaman yang layu dapat tumbuh kembali, menyusun balok agar tidak mudah roboh, atau menemukan cara menghemat penggunaan air saat mencuci tangan.
“Persoalan sederhana yang ada di sekitar anak dapat menjadi sumber belajar. Dari situ, anak belajar mengamati, berpikir, mencoba, dan menemukan solusi,” katanya.
Nova menambahkan, penerapan PBL perlu dilengkapi dengan kegiatan refleksi. Melalui refleksi, anak tidak hanya belajar menyelesaikan masalah, tetapi juga memahami proses yang telah dilakukan serta alasan di balik solusi yang dipilih.
Selain PBL, Nova memperkenalkan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) dan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL). Dalam PjBL, anak diberi kesempatan merancang, melaksanakan, dan menyelesaikan proyek secara bertahap hingga menghasilkan karya atau produk nyata.
Sementara itu, CTL menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari. Kedua pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan dunia anak.
Nova menekankan bahwa pemilihan pendekatan pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh topik. Guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kebutuhan peserta didik, serta ketersediaan waktu, media, dan lingkungan belajar.
“Topik menjadi salah satu dasar dalam menentukan pendekatan yang paling sesuai, bukan penentu tunggal,” ungkapnya.
Melalui penguatan berbagai pendekatan pembelajaran tersebut, Nova mendorong guru RA untuk lebih kreatif dalam menyusun modul ajar. Pembelajaran diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga memberikan pengalaman aktif, kontekstual, dan bermakna sekaligus menumbuhkan karakter positif pada anak.
Ketua PD IGRA Kankemenag Kota Jakarta Timur, Siti Imron, berharap kegiatan tersebut menjadi langkah nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan RA di wilayah Jakarta Timur.
“Dengan penguatan kompetensi guru dan penerapan pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai cinta, diharapkan terwujud RA yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing,” ujar Siti.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Timur Affan Sofwan, Kepala Subbagian Tata Usaha Amirullah, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Jumanto, Majelis Hikmah PD IGRA Neneng dan Mahmudah, para Ketua Pimpinan Cabang IGRA dari 10 kecamatan, serta Ketua Pelaksana Vini Syafrianah. (Ea/Yul)