Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kepulauan Seribu kembali menggelar pengajian rutin Kuliah Tujuh Menit (Kultum) usai salat Dzuhur berjamaah. Kegiatan yang menjadi sarana penguatan spiritual aparatur ini berlangsung di Kantor Perwakilan Kemenag Kabupaten Kepulauan Seribu, pada Rabu (21/1/2026).
Pada kesempatan tersebut, kultum disampaikan oleh Muhammad Fikri Adrian, Penyuluh Agama Islam ASN Kemenag Kepulauan Seribu, dengan mengulas Kitab “Ma Dzaa fi Sya’ban” karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki.
Dalam tausiahnya, Fikri menjelaskan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bulan ini berada di antara dua bulan besar, yakni Rajab dan Ramadan, sehingga kerap luput dari perhatian sebagian kaum Muslimin.
“Sya’ban adalah bulan yang sering terabaikan, padahal di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan peristiwa penting yang menjadi fondasi persiapan menuju Ramadan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban, baik melalui peningkatan ibadah, peristiwa penting dalam syariat, maupun turunnya ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki implikasi besar bagi kehidupan umat Islam.
“Rasulullah SAW tidak hanya memuliakan Sya’ban dengan ibadah, tetapi juga menjadikannya momentum pembinaan spiritual umat,” jelas Fikri.
Dalam pemaparannya, Fikri menguraikan tiga keutamaan utama bulan Sya’ban sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut.
Pertama, Sya’ban merupakan bulan di mana Nabi Muhammad SAW memperbanyak puasa sunnah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban. Bahkan, beliau hampir berpuasa sebulan penuh di bulan itu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
“Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Sya’ban adalah latihan ruhani agar jiwa dan raga siap menyambut Ramadan,” terang Fikri.
Ia menambahkan, para ulama menjelaskan bahwa puasa di bulan Sya’ban berfungsi sebagai pemanasan spiritual, sehingga ketika Ramadan tiba, seorang Muslim telah siap secara mental dan fisik untuk meningkatkan kualitas ibadahnya.
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan bahwa amal-amal manusia diangkat kepada Allah pada bulan Sya’ban, sehingga Rasulullah SAW ingin amal beliau diangkat dalam keadaan berpuasa.
“Ini mengajarkan kita agar mempersiapkan kualitas amal sebelum Ramadan, bukan baru memulainya saat Ramadan tiba,” tambahnya.
Kedua, Sya’ban adalah bulan diturunkannya perintah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Peristiwa besar ini diabadikan dalam firman Allah Ta‘ala dalam QS. al-Baqarah ayat 144. Menurut banyak ahli tafsir, perintah tersebut turun pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah.
“Perubahan kiblat bukan sekadar perubahan arah fisik dalam salat, tetapi penegasan identitas umat Islam sebagai umat yang mandiri dalam akidah dan syariat,” jelas Fikri.
Ka’bah, lanjutnya, menjadi simbol tauhid dan persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Ketiga, Sya’ban juga dikenal sebagai bulan turunnya ayat tentang perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Ahzab ayat 56.
“Ayat ini menjadi landasan kuat anjuran memperbanyak shalawat, terutama di bulan Sya’ban sebagai pengantar menuju Ramadan,” ungkapnya.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
“Shalawat bukan hanya wujud cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi juga sarana penyucian jiwa dan sebab turunnya rahmat serta ampunan Allah,” tambah Fikri.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar bulan Sya’ban diisi dengan memperbanyak shalawat, sebagai bekal ruhani menyambut bulan suci Ramadan.
Dari ketiga keutamaan tersebut, Fikri menegaskan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan persiapan yang sangat penting, baik secara personal maupun kolektif. Puasa sunnah, penguatan identitas keislaman, serta kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan fondasi spiritual yang perlu dihidupkan.
Menutup tausiahnya, Fikri berharap seluruh ASN Kemenag dapat memanfaatkan bulan Sya’ban dengan sebaik-baiknya.
“Dengan memuliakan bulan Sya’ban, semoga kita dapat memasuki Ramadan dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan kesiapan ibadah yang lebih matang,” pungkasnya.
Kegiatan kultum tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kepulauan Seribu, Kasubbag Tata Usaha, serta para ASN dan pegawai di lingkungan Kemenag Kabupaten Kepulauan Seribu.