Jakarta [Humas Kankemenag Jakarta Utara] --- Kementerian Agama Republik Indonesia Sekretariat Jenderal kembali memfasilitasi Breakfast Meeting (rapat koordinasi strategis rutin) secara hybird. Topik utama yang dibahas dalam rapat ini adalah transformasi peningkatan layanan Kantor Urusan Agama pada Selasa, [27/1/2026].
Menteri Agama Republik Indonesia, Nazaruddin Umar dalam rapat yang diikuti oleh para pejabat eselon I, II dan III baik secara langsung maupun virtual ini membeberkan beberapa fungsi Kantor Urusan Agama. Menag mendorong KUA menjelma menjadi pusat layanan komfrehensif bukan sekedar administrasi pernikahan semata.
"KUA jangan hanya fasih berbicara soal zakat, infak sedekah saja, sementara masih banyak hal yang mesti dilakukan yaitu pemberdayaan pundi-pundi keumatan lainnya," buka Menag pagi tadi.
Pundi-pundi keumatan yang dimaksud oleh Menag antara lain zakat tanaman, kafarah, jizyah, luqotah, surat-surat berharga, dam, diyat, asuransi syariah, fidyah, iwad, nazar, fai, ghanimah, wadiah, hiwalah, mudhorobah, qurban hingga ke aqiqah yang disinyalir Menag dapat meningkatkan ekonomi umat Islam.
KUA terutama di daerah menurut Menag memiliki tugas yang sangat berat. Bukan saja sebagai tempat untuk pencatatan dan memfasilitasi pernikahan tapi juga mengurusi berbagai aspek keagamaan dan sosial di tingkat kecamatan. KUA menurut Menag harus mampu menjadi jembatan penghubung berbagai unsur masyarakat.
"Selain sebagai jembatan antar umat beragama juga berperan sebagai jembatan antar elit tradisional dengan elit kampus, elit masyarakat dan pemerintah bahkan para elit muda dan tua yang seringkali memicu gesekan di masyarakat," terang Nazaruddin.
Dengan begitu, para Kepala KUA sebagai pemimpin pelayanan teknis keagamaan (instansi vertikal) di Kecamatan harus memiliki wawasan yang luas dan memahami batasan dalam urusan perannya yang kerapkali bersentuhan langsung dengan Camat sebagai penguasa wilayah (pemerintahan struktural).
"Kedudukan Kepala KUA dengan Camat sejatinya setara dalam konteks koordinasi tingkat kecamatan. Maka jagalah wibawa anda, jangan sampai ada Kepala KUA membawakan tas Camat saat bekerja," seloroh Menag.
Rapat berisi masukan dari semua unsur dan paparan Dirjen Bimas Islam terkait transformasi peningkatan layanan KUA yang disambung dengan berbagai usulan dan masukan dari beberapa Kepala KUA di Indonesia. Adapun Kakanwil Kemenag Prov. DKI Jakarta menyampaikan progres status alih lahan Pemda (KUA) kepada Kemenag.
Sementara Kakankemenag Kota Jakarta Utara Mawardi Abdul Gani yang turut mengikuti breakfast meeting ini berharap peran KUA bisa berjalan dan berdampak terkhusus pada pelayanan publik meskipun dengan keterbatasan yang dimiliki. Ia mendorong terjaganya komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak agar pelayanan bisa maksimal.
"Tetap semangat, tidak surut langkah dan lelah dalam melayani," pungkas Mawardi.