Pulau Tidung, Jakarta (Humas Kemenag Kepulauan Seribu) -- Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Seribu, Achmad Mastur, melaksanakan penyuluhan keagamaan melalui dialog interaktif bersama nelayan di Dermaga Kapal Pulau Tidung, pada Kamis (9/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan program Ekoteologi Kementerian Agama yang mengajak masyarakat, khususnya para nelayan, untuk memandang pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Dalam suasana dialog yang hangat dan penuh keakraban, para nelayan diajak berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kelestarian laut sebagai amanah dari Allah SWT.
Pada kesempatan tersebut, Achmad Mastur menegaskan bahwa laut bukan hanya sumber mata pencaharian, tetapi juga titipan yang harus dijaga demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membuang sampah ke laut serta menghindari penggunaan alat tangkap yang dapat merusak terumbu karang dan ekosistem laut.
"Menjaga laut bukan sekadar tanggung jawab nelayan, tetapi juga bagian dari ibadah. Ketika kita merawat alam yang Allah titipkan, sesungguhnya kita sedang menjaga nikmat yang menjadi sumber kehidupan bersama," ujar Achmad Mastur.
Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 41 yang mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan manusia. Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat agar setiap orang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang merusak alam.
"Allah telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut berasal dari ulah manusia. Karena itu, jangan sampai kita menjadi penyebab rusaknya ekosistem. Mari jadikan laut tetap bersih, lestari, dan produktif agar manfaatnya terus dirasakan oleh anak cucu kita," tambahnya.
Salah seorang tokoh nelayan jaring kongsi Pulau Tidung, Ramli, menyambut baik penyuluhan tersebut. Menurutnya, pesan-pesan keagamaan yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan para nelayan yang setiap hari bergantung pada hasil laut.
"Kami menyadari bahwa laut adalah sumber kehidupan. Melalui penyuluhan ini kami semakin paham bahwa menjaga kebersihan laut dan tidak merusak ekosistem bukan hanya untuk mencari ikan, tetapi juga merupakan tanggung jawab moral dan bagian dari ajaran agama," ungkap Ramli.
Melalui dialog interaktif ini, Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Seribu berharap kesadaran masyarakat pesisir terhadap pentingnya menjaga kelestarian laut semakin meningkat. Dengan memadukan nilai-nilai agama dan kepedulian terhadap lingkungan, program Ekoteologi diharapkan mampu mendorong lahirnya perilaku yang lebih ramah lingkungan demi terwujudnya laut yang bersih, lestari, dan berkelanjutan.