Opini

Belajar Moderasi Beragama Melalui Pengalaman Nyata

Jumat, 12 Juni 2026
Dibaca 203 kali
blog

Jakarta (Humas MAN 9 Jakarta) — Moderasi beragama tidak cukup diajarkan melalui teori dan hafalan di ruang kelas, tetapi perlu dihadirkan melalui pengalaman nyata yang memungkinkan peserta didik berinteraksi langsung dengan keberagaman. Pendekatan tersebut menjadi refleksi yang disampaikan Guru Pendidikan Pancasila, Natalia Rumanti Hartono, dalam upaya menumbuhkan sikap toleran dan saling menghormati di kalangan generasi muda.

 

Menurut Natalia, Indonesia merupakan ruang bersama yang dihuni masyarakat dengan latar belakang agama, budaya, dan tradisi yang beragam. Meski hidup berdampingan, kedekatan secara fisik belum tentu diikuti dengan pemahaman yang mendalam terhadap perbedaan yang ada.

 

Ia mengamati masih banyak peserta didik yang tumbuh di tengah lingkungan majemuk, namun belum memiliki pengalaman berdialog atau berinteraksi secara langsung dengan pemeluk agama lain. Akibatnya, pemahaman mengenai keberagaman sering kali hanya diperoleh dari cerita, asumsi, atau informasi yang beredar di media sosial.

 

“Banyak murid mampu menjelaskan pengertian toleransi, kerukunan, dan moderasi beragama dengan baik. Namun ketika ditanya pengalaman nyata berinteraksi dengan kelompok yang berbeda, tidak sedikit yang kesulitan menjawab,” ungkap Natalia.

 

Berangkat dari kondisi tersebut, Natalia mengembangkan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mengajak peserta didik berhadapan langsung dengan realitas keberagaman. Melalui proyek pembelajaran, para siswa melakukan observasi, wawancara, menonton film bertema keberagaman, serta mengkaji berbagai konten media sosial yang berkaitan dengan kehidupan lintas iman.

 

Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak menyentuh ranah teologis atau membahas benar dan salah suatu ajaran agama. Fokus pembelajaran diarahkan pada aspek sosial, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

 

Pengalaman lapangan tersebut memberikan kesan mendalam bagi para peserta didik. Berbagai prasangka dan kecanggungan yang sempat muncul sebelum kegiatan perlahan berubah menjadi pemahaman yang lebih luas setelah mereka berdialog dan berinteraksi secara langsung.

 

Para siswa menemukan bahwa di balik perbedaan simbol, tradisi, dan tata cara ibadah, terdapat nilai-nilai universal yang sama-sama diajarkan oleh setiap agama, seperti kepedulian terhadap sesama, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, dan semangat hidup damai.

 

Dalam sesi refleksi, salah seorang peserta didik menyampaikan bahwa setiap agama memiliki cara yang berbeda, tetapi semuanya mengajarkan manusia untuk berbuat baik. Bagi Natalia, pemahaman tersebut lahir bukan dari hafalan, melainkan dari pengalaman langsung yang membuka ruang dialog dan saling pengertian.

 

Ia juga mencatat bahwa kegiatan tersebut tidak mengurangi keyakinan para siswa terhadap agamanya masing-masing. Sebaliknya, mereka menjadi lebih memahami ajaran yang dianut sekaligus semakin mampu menghargai keyakinan orang lain tanpa harus mencampuradukkan nilai-nilai keimanan.

 

Selain itu, para siswa menjadi lebih kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial. Mereka mulai mampu membedakan konten yang mendorong dialog dan persatuan dengan konten yang berpotensi memicu konflik serta polarisasi di tengah masyarakat.

 

Menurut Natalia, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik yang moderat, terbuka, dan mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman. Pendidikan tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan sosial yang diperlukan untuk menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

 

“Moderasi beragama tumbuh ketika murid diberi kesempatan untuk bertemu, mendengar, bertanya, dan memahami. Di situlah pembelajaran menjadi lebih bermakna,” ujarnya.

 

Melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya memahami makna toleransi secara konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat persatuan bangsa serta menjaga harmoni di tengah keberagaman Indonesia./Natalia Rumanti Hartono

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor