Pulau Tidung, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan melaksanakan kegiatan kultum ba’da shalat Subuh berjamaah di Mushola Nurul Hikmah, Pulau Tidung, pada Selasa (3/2/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja pembinaan keagamaan rutin yang dilaksanakan oleh para Penyuluh Agama Islam sebagai upaya memperkuat pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di tengah masyarakat, khususnya dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadan dengan amal ibadah yang berkualitas.
Adapun tema kultum ba’da Subuh yang disampaikan oleh Irvan Dady, Penyuluh Agama Islam, yaitu “Lima Perkara yang Membatalkan Pahala Puasa.” Tema ini dipilih sebagai pengingat agar umat Islam tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan perilaku selama berpuasa.
Dalam tausiahnya, Irvan menjelaskan bahwa lima perkara yang dapat menghapus pahala puasa tersebut adalah ghibah (menggunjing), namimah atau adu domba, berkata dusta atau berbohong, memandang sesuatu dengan penuh syahwat, serta sumpah palsu.
Irvan Dady menerangkan, pertama adalah ghibah (menggunjing). Ia menegaskan bahwa membicarakan keburukan orang lain, meskipun itu benar adanya, tetap termasuk perbuatan yang dilarang.
“Puasa itu bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan. Apa gunanya kita menahan makan dan minum, jika lidah kita justru sibuk menggunjing saudara kita sendiri,” ujarnya.
Kedua, namimah atau adu domba. Ia mengingatkan bahwa menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan memecah belah merupakan dosa besar yang dapat merusak ukhuwah.
“Namimah itu seperti api kecil yang membakar persaudaraan. Sekali kita menyebarkan cerita dengan niat memecah belah, dampaknya bisa panjang dan sulit dipadamkan,” katanya.
Ketiga, berkata dusta atau berbohong. Menurutnya, kebohongan sekecil apa pun dapat mengurangi nilai ibadah puasa.
“Rasulullah mengingatkan, siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Artinya, kejujuran adalah ruh dari ibadah puasa,” jelasnya.
Keempat, memandang sesuatu dengan penuh syahwat. Ia menekankan pentingnya menjaga pandangan sebagai bagian dari menjaga hati.
“Pandangan adalah pintu hati. Ketika pandangan tidak dijaga, hati akan mudah ternodai, dan dari situlah lahir perbuatan-perbuatan yang merusak pahala puasa,” ungkapnya.
Kelima, sumpah palsu. Irvan menegaskan bahwa bersumpah atas nama Allah untuk membenarkan kebohongan merupakan dosa yang sangat besar.
“Jangan sampai kita membawa nama Allah untuk membenarkan sesuatu yang tidak benar. Sumpah palsu bukan hanya merusak pahala puasa, tetapi juga mencederai kehormatan diri kita sebagai seorang muslim,” tegasnya.
Lebih lanjut, Irvan menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik, melainkan ibadah yang menuntut pengendalian diri secara menyeluruh.
“Sering kali kita merasa sudah berpuasa dengan baik karena tidak makan dan minum, tetapi kita lupa menjaga lisan, pandangan, dan hati. Padahal di situlah letak kualitas puasa kita,” tuturnya.
Untuk itu, Irvan mengajak para jamaah menjadikan momentum Subuh sebagai awal perubahan diri.
“Jika kita mampu menjaga diri sejak pagi hari, insya Allah hingga sore dan seterusnya kita akan lebih kuat menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi bahkan menghapus pahala puasa,” pungkasnya.
Kultum berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme. Tampak hadir para jamaah Mushola Nurul Hikmah yang terdiri dari tokoh masyarakat, pemuda, serta warga sekitar Pulau Tidung yang mengikuti tausiah dengan penuh perhatian.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami esensi puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga akhlak dan perilaku agar ibadah yang dijalankan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.