Jakarta (Humas Kanwil Kemenag DKI) ---- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib mengajak Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga dan merawat kerukunan umat beragama. Hal ini disampaikan saat kegiatan kunjungan lintas agama di kelenteng Si Mian Fo.
Kakanwil mengapresiasi kepada seluruh pengurus FKUB yang selama ini terus bersinergi dengan Kementerian Agama dalam menjaga kondusivitas kehidupan beragama di Jakarta. Berkat kerja sama tersebut, DKI Jakarta berhasil meraih Harmony Award 2025 dari Menteri Agama RI.
"Kami berterima kasih kepada seluruh tokoh agama dan FKUB yang terus bersinergi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Agama, dalam menjaga kondusivitas kerukunan umat beragama di DKI Jakarta. Alhamdulillah, pada tahun 2025 DKI Jakarta berhasil meraih Harmony Award. Ini merupakan penghargaan yang sangat penting dan tidak lepas dari kerja keras seluruh tokoh agama yang terus mengawal dan merawat kerukunan di Jakarta," ujarnya dikawasan pantai indah kapuk, Selasa (14/7).
Menurutnya, kerukunan umat beragama tidak hanya diukur dari persoalan pendirian rumah ibadah, tetapi lebih jauh menyangkut tumbuhnya kesadaran untuk mengedepankan toleransi, saling menghargai, kesetaraan, dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
"Yang lebih substansial adalah bagaimana kita terus membangun kesadaran umat beragama akan pentingnya harmoni dan kerukunan melalui prinsip toleransi, saling menghargai, kesetaraan, dan kerja sama. Itulah indikator utama kerukunan umat beragama di Indonesia," katanya.
Adib juga mengapresiasi pembangunan kawasan rumah ibadah di Pantai Indah Kapuk yang dinilainya dapat menjadi contoh nyata toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di Indonesia.
"Kawasan rumah ibadah di Pantai Indah Kapuk dapat menjadi role model toleransi umat beragama di Indonesia. Rumah-rumah ibadah berdiri secara setara dan dibangun di atas prinsip saling menghormati, bekerja sama, serta hidup berdampingan. Ini menjadi contoh nyata kerukunan di tengah masyarakat," ungkapnya bersama Ketua FKUB DKI Jakarta, Yusuf Amman, jajaran pengurus FKUB kabupaten/kota, serta Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama.
Dalam kesempatan tersebut, Adib mengibaratkan kerukunan umat beragama sebagai sebuah pohon yang harus terus dirawat agar tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Menurutnya, moderasi beragama merupakan fondasi utama yang menjaga pohon kerukunan tetap kokoh.
"Moderasi beragama adalah pupuk yang menyuburkan pohon kerukunan. Tanpa sikap beragama yang moderat, sulit membangun kerukunan. Toleransi bukan hanya mengakui adanya perbedaan, tetapi juga memberikan ruang kepada setiap umat untuk menjalankan keyakinannya," jelasnya.
Kakanwil menjelaskan bahwa moderasi beragama memiliki empat indikator utama, yakni toleransi, anti-kekerasan, penghormatan terhadap budaya lokal, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Keempat prinsip tersebut menjadi landasan dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis.
Selain memperkuat moderasi beragama, Adib menegaskan pentingnya membangun sistem pencegahan dini terhadap konflik sosial berdimensi keagamaan melalui Sistem Informasi Kerukunan (SIRUKUN).
"Kita harus memiliki kemampuan mendeteksi potensi konflik sejak dini. Konflik tidak pernah terjadi begitu saja. FKUB harus menjadi garda terdepan melakukan dialog, silaturahmi, dan mitigasi sehingga persoalan dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar," tegasnya.
Sebagai Pilot Project penerapan sistem pencegahan konflik berbasis SIRUKUN, Kakanwil berharap penyuluh agama, FKUB, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah mampu memetakan sekaligus menangani potensi konflik secara cepat dan berjenjang.
"Kerukunan, persaudaraan, dan kebersamaan adalah nikmat terbesar yang harus terus kita rawat. Kementerian Agama tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi pemerintah, FKUB, tokoh agama, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci menjaga Jakarta tetap damai dan harmonis," pungkasnya.