Jakarta — (Humas Kemenag DKI) — Romo Muhammad Syafi'i, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, menutup secara resmi Festival Majelis Taklim 2025 pada Jumat malam di Asrama Haji Pondok Gede. Acara tersebut dihadiri pula oleh Dr. Ahmad Zayadi (Direktur Penerangan Agama Islam), Prof. Dr. H. Sururin, MA (Ketua Pokja Majelis Taklim Nasional), serta sejumlah pejabat Kemenag, pimpinan Kanwil, dan jamaah Majelis Taklim dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Wamenag memberikan penghargaan istimewa kepada ibu-ibu jamaah Majelis Taklim. Pada usia 67 tahun, ia mengungkapkan bahwa sejak dua tahun terakhir merasakan kembali kehadiran dan pendampingan ibu-ibu dalam kegiatan keagamaan sehingga ia menyebut mereka sebagai “saudara kandung”. Menurutnya, Majelis Taklim bukan sekadar tempat menimba ilmu tetapi juga wadah sosial dan spiritual bagi perempuan untuk berekspresi, berkegiatan, serta memperkuat ukhuwah dan solidaritas di komunitas, ujarnya di Jakarta, Rabu (26/11)
Lebih dari itu, Wamenag menekankan bahwa tradisi dan keragaman budaya di Indonesia mulai dari suku, etnis, hingga agama menjadi kekayaan tersendiri. Menurut dia, kegiatan keagamaan seperti Majelis Taklim berperan penting dalam merawat persatuan, kerukunan, dan kebersamaan, di tengah perbedaan yang ada.
“Majelis Taklim ini kadang-kadang ada juga yang membawa hasil kerajinan tangannya, dijadikan sebagai wadah bagi ibu-ibu, terutama untuk curhat terhadap persoalan yang dihadapi,” katanya. Dengan demikian, Majelis Taklim menjadi ruang tidak hanya untuk belajar agama, tetapi juga untuk membangun komunitas — sosial, ekonomi, dan spiritual.
Wamenag juga mengapresiasi seluruh pengurus dan panitia penyelenggara termasuk Prof. Sururin dan Dr. Ahmad Zayadi atas komitmen dan kerja keras mereka dalam memfasilitasi Festival. Ia menegaskan bahwa pemerintah melalui Kemenag berkomitmen mendukung Majelis Taklim sebagai mitra strategis dalam membina umat dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Penutupan festival ini menjadi simbol kuat bahwa Majelis Taklim yang lintas organisasi dan ormas adalah milik seluruh umat Islam Indonesia, sebagai rumah besar persaudaraan, pendidikan, serta pemberdayaan umat dan bangsa.
Sebelumnya, dalam laporan penyelenggaraan kegiatan, Dr. Ahmad Zayadi menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh peserta dari berbagai daerah. Ia memuji dedikasi para guru, pendamping, panitia dan semua pihak yang telah memastikan kelancaran festival. Menurutnya, keberadaan Majelis Taklim sebagai “ruang umat” untuk belajar, berdiskusi dan memperkuat ketahanan spiritual keluarga serta komunitas menjadi sangat vital.
Dr. Zayadi juga mengingatkan bahwa dua tahun lalu, Pokja Majelis Taklim Nasional dideklarasikan sebagai payung besar yang merangkul majelis-majelis taklim lintas ormas. Dengan festival ini, komitmen dan kerjasama lintas komunitas kembali dibuktikan secara nyata. Pemerintah melalui Kemenag berkomitmen untuk terus memberi pengakuan, afirmasi, dan fasilitasi kepada Majelis Taklim sebagai mitra dalam pembangunan spiritual dan sosial umat.
Festival Majelis Taklim 2025 berjalan lancar dan penuh kebersamaan, mempertemukan jamaah dari Sabang sampai Merauke. Semoga momentum ini menjadi landasan kuat bagi peningkatan kualitas penyelenggaraan dan partisipasi di masa mendatang serta menjadi amal salih dan legacy positif untuk umat dan bangsa Indonesia.