Jakarta [Humas Kankemenag Jakarta Utara] --- Dua siswi MTs Al-Wathoniyyah 43 kembali mengharumkan nama madrasah melalui ajang Lomba Olahraga Tradisional tingkat SMP/MTs se-Provinsi DKI Jakarta yang digelar di GOR Soemantri, Jakarta Selatan. Kegiatan yang berlangsung belum lama ini menjadi momentum pelestarian budaya sekaligus ruang pembinaan karakter generasi muda.
Lomba olahraga tradisional tersebut bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kerja sama, ketekunan, serta melestarikan permainan khas Indonesia di tengah arus modernisasi. Ajang ini diinisiasi oleh Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) DKI Jakarta, organisasi yang berfokus pada pengembangan dan pelestarian olahraga tradisional.
Dua siswi MTs Al-Wathoniyyah 43 berhasil meraih juara 2 pada kategori berbeda. Intan Nuraini, peserta kelas 9, memperoleh juara 2 Ketapel Putri, sementara Sabrina Maulida dari kelas 8 meraih juara 2 Engrang Putri. Prestasi ini menambah deretan capaian siswa madrasah yang aktif mengikuti berbagai lomba tradisional.
Kepala madrasah menyampaikan rasa syukur dan bangga atas pencapaian tersebut. “Alhamdulillah, siswi kami berhasil memenangkan lomba tradisional yang sekaligus menjadi sarana edukasi dan pembentukan mental,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa madrasah mengirimkan 15 peserta untuk mengikuti cabang seperti Lari Balok, Engrang, Ketapel, dan Sumpitan pada tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa para peserta hanya berlatih dua kali seminggu, dan intensif delapan kali menjelang perlombaan. Meskipun belum menjadi juara pertama, madrasah menilai keberanian dan semangat peserta sebagai kemenangan tersendiri. “Kami senang melihat semangat mereka. Meski olahraga ini mulai jarang dimainkan, anak-anak tetap berani tampil dan berusaha maksimal,” tuturnya.
Kepala madrasah berharap kegiatan seperti ini dapat memperkuat komitmen MTs Al-Wathoniyyah 43 sebagai madrasah yang turut menjaga warisan budaya bangsa. Ia menegaskan bahwa olahraga tradisional tidak hanya menyehatkan jasmani, tetapi juga rohani. “Dengan terus berlomba, siswa akan terbentuk menjadi pribadi yang sehat, baik fisik maupun mental,” ujarnya.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa program-program pembinaan karakter dan budaya yang diinisiasi Kementerian Agama melalui madrasah memberikan dampak positif bagi generasi muda dan pelestarian budaya Indonesia.