Jakarta (Humas Kemenag DKI) --- Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa tokoh agama memiliki peran sentral dalam mengembalikan kesadaran spiritual manusia terhadap alam.
Hal itu disampaikan Menag saat membuka Dialog Ramadan 2026 bertema “Peran Strategis Tokoh Agama Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan” yang digelar Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Keuskupan Agung Jakarta di Graha Pemuda, Kompleks Katedral Jakarta, Selasa (3/3).
Dalam sambutannya, Nasaruddin menyoroti perubahan cara pandang manusia modern terhadap alam. Ia membandingkan masyarakat tradisional yang memandang alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual dengan masyarakat modern yang cenderung melihatnya hanya sebagai objek penelitian rasional.
“Alam sesungguhnya adalah The Face of God atau wajah Tuhan. Namun ketika teologi modern menempatkan Tuhan sangat transenden, manusia mulai memisahkan diri dari alam. Akibatnya, alam tidak lagi dipandang sakral,” ujarnya di hadapan ratusan tokoh agama.
Menurut Menag, kondisi tersebut harus direspons dengan gerakan resakralisasi alam yang melibatkan para pemimpin agama lintas iman.
“Hanya tokoh agama yang bisa membahasakan kembali bahwa alam itu sakral. Kita harus menghidupkan kembali pesan kitab suci masing‑masing bahwa manusia bertanggung jawab menjaga lingkungan agar bencana tidak terus berulang,” tegasnya.
Dialog lintas iman ini juga menghadirkan dua narasumber utama, yakni pakar keislaman Prof. Didi Supandi, Lc., M.A., Ph.D. dan Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).
Prof. Didi Supandi menegaskan bahwa nilai menjaga alam sebenarnya menjadi ajaran universal dalam semua agama. Ia mencontohkan berbagai hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatur etika manusia terhadap lingkungan.
“Pesan itu sejalan dengan ajaran dalam Alkitab dan kitab suci lainnya. Kita juga melihat teladan tokoh besar seperti Santo Fransiskus hingga Paus Fransiskus yang sangat vokal mengenai ekologi,” paparnya.
Sementara itu, Uskup KAJ menyampaikan refleksi melalui kisah analogi “Burung Nuri dan Pohon yang Sekarat.” Dalam kisah tersebut, seekor burung nuri tetap setia menjaga pohon yang hampir mati karena pohon itu adalah tempat kelahirannya.
“Nuri itu adalah kita semua. Kesetiaan merawat dan memohon pemulihan bagi alam yang rusak adalah keluhuran hati yang harus dimiliki umat beragama,” ungkapnya.
Dialog ini dihadiri ratusan peserta, mulai dari pejabat Kementerian Agama, tokoh lintas agama, aktivis kemanusiaan, hingga pengurus HAAK dari berbagai Paroki di Jakarta.
Sumber : Humas Pembimas Katolik