Berita
Berita

Langkah Pagi Para Kartini Kecil: Dari Barisan Pawai hingga Warna-Warna Impian

Selasa, 21 April 2026
Dibaca 532 kali
blog

Zahra,Nasya ,Naila ,Hafizah,Kira ,Fara dan Nadhira Kartini Kecil MIN 17 Kepulauan Seribu. Selasa, (21/4/2026).

Jakarta (Humas MIN 17 Kepulauan Seribu) --- Di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin khas pesisir Kepulauan Seribu, tujuh siswi kecil duduk berjejer di atas lantai lapangan yang sederhana.

 

 Wajah-wajah polos itu memancarkan semangat yang tak biasa. Zahra, Nasya, Naila, Hafizah, Kira, Fara, dan Nadhira nama-nama yang hari itu terasa begitu istimewa tampil anggun dalam balutan pakaian adat Nusantara. Mereka adalah “Kartini kecil” dari kelas 1 MIN 17 Kepulauan Seribu. Selasa, (21/4/2026).

 

Pagi itu bahkan dimulai lebih awal dari biasanya. Sejak pukul 06.00 WIB, mereka sudah tiba di sekolah dengan langkah-langkah kecil yang penuh antusias. Mata yang masih menyimpan sisa kantuk tak mampu menyembunyikan rasa semangat. Di tangan mereka tergenggam buku gambar, pensil warna, dan perlengkapan sederhana yang sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Hari itu bukan hari biasa hari itu adalah peringatan Hari Kartini.

 

Sebelum duduk dan mulai mewarnai, mereka terlebih dahulu mengikuti barisan bersama teman-teman lainnya. Dengan langkah kecil yang beriringan, mereka berjalan rapi dalam pawai mengelilingi area sekolah. Pakaian adat yang dikenakan tampak semakin hidup saat tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan membanggakan. Di momen itu, mereka bukan sekadar siswa mereka adalah simbol kecil keberagaman dan warisan budaya bangsa.

 

Usai pawai, mereka kembali berkumpul dan duduk melingkar bersama teman-temannya. Tawa kecil pun pecah, saling berbagi cerita dan menunjukkan perlengkapan masing-masing. Dalam balutan kebaya kecil dan hijab berwarna-warni, mereka seolah menjadi potret hidup dari semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini yang terus diwariskan lintas generasi.

 

“Senang sekali bisa ikut pawai dan lomba mewarnai. Aku bangga pakai baju adat,” ucap Nadhira dengan mata berbinar, sambil menggenggam erat pensil warnanya. Kalimat sederhana itu mengalir jujur, namun menyimpan semangat besar yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

 

Kegiatan lomba mewarnai pun dimulai. Tangan-tangan kecil itu menari di atas kertas, mengisi setiap ruang dengan warna-warna cerah. Ada yang memilih warna lembut, ada pula yang berani memadukan warna-warna mencolok. Tak ada aturan yang membatasi imajinasi mereka hanya kebebasan untuk berekspresi.

 

Di tengah suasana itu, para guru mendampingi dengan penuh kehangatan. Mereka membiarkan setiap anak menemukan caranya sendiri dalam berkarya, tanpa tekanan, tanpa beban. Yang tumbuh bukan sekadar hasil gambar, melainkan keberanian, rasa percaya diri, dan kegembiraan yang tulus.

 

Di sudut lain lapangan, beberapa orang tua yang hadir tampak menyaksikan dengan mata berbinar. Mereka mengabadikan momen melalui ponsel, sesekali melambaikan tangan kepada anak-anak mereka. Kebanggaan itu terasa sederhana, namun begitu dalam melihat putri-putri kecil mereka tumbuh dengan keberanian dan keceriaan.

 

Langit pagi yang perlahan meninggi seakan menjadi saksi, bahwa hari itu bukan sekadar perayaan. Ia menjelma menjadi ruang belajar tentang arti kebersamaan, keberanian, dan cinta terhadap budaya sendiri. Dalam langkah kecil yang penuh makna, semangat Kartini tumbuh pelan namun pasti, berakar kuat di hati generasi penerus bangsa. (j)

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor