Berita
Idul Adha

Khutbah Idul Adha Ajak Umat Teladani Keteguhan Nabi Ibrahim

Rabu, 27 Mei 2026
Dibaca 333 kali
blog

Ketua APRI, Madari menjadi Khatib dan Imam kegiatan salat iduladha di Masjid Raudhatul Jannah, Kanwil Kemenag DKI Jakarta./humas

Jakarta (Humas Kemenag DKI) --- Kumandang takbir Hari Raya IdulAdha menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali menyadari kebesaran Allah SWT sekaligus memperkuat syukur atas nikmat kehidupan. Pesan itu mengemuka dalam khutbah IdulAdha yang menekankan pentingnya memanfaatkan sisa usia untuk memperbanyak amal saleh.

 

Dalam khutbah tersebut, Madari mengingatkan bahwa kesempatan hidup merupakan nikmat besar yang tidak boleh disia-siakan. Menurutnya, banyak orang yang pada Idulfitri sebelumnya masih bersama keluarga dan sahabat, tetapi kini telah berpulang kepada Allah SWT.

 

“Alhamdulillah, hari ini kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah SWT. Kesempatan ini harus digunakan untuk beramal saleh, berbuat baik, dan menambah bekal menghadap Allah,” pesan Ketua APRI di Masjid Raudhatul Jannah, Rabu (27/5)

 

Ia menegaskan, setiap aktivitas seorang muslim dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT. Makan, bekerja, berinteraksi dengan masyarakat, hingga aktivitas keseharian lainnya, kata dia, hendaknya menjadi bagian dari upaya mengumpulkan bekal akhirat.

 

Khatib juga menjelaskan dua makna penting dari takbir yang dikumandangkan pada Hari Raya Idul Adha. Pertama, takbir menjadi pengakuan bahwa tidak ada yang lebih besar dan lebih agung selain Allah SWT. Kedua, takbir merupakan wujud syukur atas petunjuk dan nikmat yang telah diberikan Allah kepada hamba-Nya.

 

“Ketika kita mengakui kebesaran Allah, maka manusia harus merasa kecil di hadapan-Nya. Karena itu, tidak pantas manusia bersikap sombong dan merasa paling berkuasa,” ujar Ketua Timker fungsi kepenghuluan dan fasilitasi keluarga sakinah.

 

Lebih lanjut, khatib mengajak jemaah mengambil pelajaran dari perjalanan Nabi Ibrahim AS. Ia menyebut Nabi Ibrahim sebagai teladan dalam keimanan, akhlak, kepatuhan, dan kesabaran. Salah satu pelajaran penting adalah bagaimana Nabi Ibrahim tetap bersikap lembut kepada orang tuanya meskipun berbeda keyakinan.

 

“Betapapun kita berbeda pendapat dengan orang tua, Islam mengajarkan agar kita tetap menggunakan kalimat yang paling lembut dan paling terhormat,” tuturnya.

 

Selain itu, peristiwa kurban juga menjadi pelajaran tentang kepatuhan total kepada perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim AS, lanjut khatib, rela melaksanakan perintah yang sangat berat ketika diminta mengorbankan putra yang sangat dicintainya. Hal itu menjadi cermin bagi umat Islam agar tidak merasa berat dalam menjalankan perintah agama, termasuk berkurban dan bersedekah.

 

Khatib menambahkan, ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim AS jauh lebih berat dibandingkan kesulitan yang dialami manusia saat ini. Karena itu, umat Islam diminta untuk tidak mudah mengeluh dalam menghadapi persoalan hidup, termasuk tekanan ekonomi, pekerjaan, maupun kebutuhan sehari-hari.

 

“Seberat apa pun ujian yang menghantam kita, jangan pernah ragu kepada Allah. Selama kita bersandar kepada Allah dan taat kepada aturan-Nya, pertolongan Allah pasti akan sampai,” tegasnya.

 

Di akhir khutbah, khatib mengingatkan bahwa orientasi hidup seorang muslim adalah akhirat. Dunia tetap harus dijalani dengan baik, tetapi tidak boleh menjadi pusat keluhan dan kekhawatiran yang berlebihan.

 

“Fokus hidup kita adalah akhirat. Mati bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari perjalanan panjang menuju Allah SWT,” pungkasnya.

 

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor