Jakarta (Humas Kemenag DKI) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, menegaskan pentingnya percepatan transformasi layanan di pondok pesantren agar lebih ramah anak dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Sosialisasi Pesantren Ramah Anak di Jakarta Selatan, Selasa (09/12/2025).
Adib menyebut prinsip pesantren ramah anak sejatinya sudah lama menjadi tradisi pesantren, namun perubahan sosial modern menuntut pembaruan. “Para pengasuh, ustaz, dan pembimbing di pesantren adalah pengganti orang tua bagi para santri. Anak-anak yang dititipkan orang tua adalah amanah bagi kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan disiplin masa lalu tak lagi relevan dengan perkembangan regulasi saat ini. “Kalau dulu salah baca Fatiha dipukul dianggap normal, jangan coba hari ini. Undang-undang sudah mengatur, dan kita wajib menghormatinya. Transformasi bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Adib juga menyoroti tantangan era media sosial yang sering membawa masyarakat pada situasi post-truth. Menurutnya, pesantren perlu memanfaatkan platform digital untuk edukasi positif sekaligus melindungi santri dari konten negatif.
Meski mengusung transformasi, Adib menekankan bahwa nilai-nilai khas pesantren harus tetap dipertahankan. “Budaya akhlakul karimah, keteladanan guru, keikhlasan pengasuh, dan ketulusan pengajar adalah kekuatan pesantren yang tidak tergantikan,” katanya.
Ia turut mengingatkan pentingnya kesadaran hukum dalam pengasuhan santri, termasuk terkait isu pernikahan anak yang kini memiliki batas usia jelas sesuai undang-undang.
Lebih jauh, Adib mendorong pesantren untuk terus berinovasi dan meningkatkan kemandirian agar tetap relevan serta dipercaya masyarakat. “Kalau kita tidak bertransformasi, kita akan menjadi korban zaman. Pesantren harus terus berbenah dan menjadi lembaga pendidikan terbaik,” ujarnya.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Kemenag DKI Jakarta berharap pemahaman pengasuh dan pengelola pesantren mengenai konsep pesantren ramah anak semakin meningkat, sehingga layanan pendidikan keagamaan di DKI Jakarta semakin berkualitas dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. “Semoga kegiatan ini menghasilkan hal-hal produktif untuk meningkatkan layanan pesantren kita,” tutup Adib.