Berita
Berita

Dari Ombak ke Papan Tulis: Jejak Pengabdian Guru Tertua MIN 17 Kepulauan Seribu

Selasa, 25 November 2025
Dibaca 575 kali
blog

Hermansyah, guru MIN 17 Kepulauan Seribu yang paling tertua. Selasa, (25/11/2025).

Jakarta (Humas MIN 17 Kepulauan Seribu) --- Di antara ruang-ruang kelas MIN 17 Kepulauan Seribu yang berdiri tenang di tepi laut, nama Hermansyah telah menjadi bagian dari sejarah panjang sekolah itu. Pada selasa, (25/11/2025) ketika angin pagi membawa aroma asin khas pesisir, guru kelahiran April 1968 itu kembali memasuki kelas dengan langkah mantap seperti yang telah ia lakukan selama puluhan tahun. Sosoknya, yang kini mendekati masa purnatugas pada tahun 2028, tetap menjadi cahaya bagi generasi muda di pulau kecil tersebut.

 

Hermansyah menempuh pendidikan di PGA dan berhasil lulus pada tahun 1989. Namun, alih-alih langsung mengajar, ia memilih jalan berbeda. Ia memutuskan melaut, mengikuti jejak banyak pemuda pesisir yang mencari pengalaman dan ketangguhan di ombak yang tak pernah benar-benar bisa ditebak.

 

Selama tiga tahun bekerja sebagai pelaut, Hermansyah menyerap banyak pelajaran hidup. Ombak mengajarkannya ketabahan; angin mengajarkannya bahwa arah bisa berubah kapan saja. Bekal pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara ia memandang dunia pendidikan bukan sekadar profesi, tetapi perjalanan membangun manusia.

 

Pada tahun 1992, ia mengambil keputusan besar: berhenti melaut dan mulai mengajar. Ia memulai karier pendidikannya sebagai guru honorer di MTs Al Ishlah Islamiyah, lembaga yang kini dikenal sebagai MTsN 26 Jakarta. Di madrasah itulah ia pertama kali merasakan hangatnya interaksi dengan siswa, serta tanggung jawab besar sebagai penjaga masa depan mereka.

 

Perjalanan sebagai honorer bukan perkara mudah. Gaji kecil, fasilitas sederhana, serta tuntutan kerja yang tak ringan kerap datang bersamaan. Namun, tidak sekalipun Hermansyah kehilangan semangatnya. Ia selalu percaya bahwa seorang guru tidak bekerja untuk pujian, tetapi untuk perubahan kecil yang ia lihat pada murid-muridnya setiap hari.

 

Kesabaran dan dedikasinya akhirnya berbuah pada tahun 2002. Hermansyah resmi diangkat sebagai CPNS di MIA Al Ishlah Islamiyah, yang kemudian berubah menjadi MIN 17 Kepulauan Seribu. Status kepegawaian itu bukan puncak karier baginya, melainkan awal dari pengabdian yang semakin mendalam.

 

Di sekolah inilah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai pendidik. Sebagai guru tertua di MIN 17 Kepulauan Seribu, ia menjadi rujukan bagi guru muda tempat bertanya, tempat mencari nasihat, dan tempat belajar tentang arti ketulusan dalam mengajar. Rekan-rekannya menyebutnya sebagai “penjaga ruh sekolah,” sosok yang merawat nilai dan budaya selama bertahun-tahun.

 

Bagi para siswa, Hermansyah tidak hanya mengajarkan pelajaran di papan tulis. Ia mengajarkan kehidupan: tentang kesederhanaan, tentang kegigihan, tentang pentingnya menghargai waktu, dan tentang bagaimana cinta pada ilmu dapat membuka banyak pintu. Kehadirannya setiap pagi, lengkap dengan senyum hangat, menjadi pengingat bahwa sekolah adalah ruang tumbuh, bukan sekadar tempat belajar.

 

Kini, menjelang masa pensiunnya pada 2028, Hermansyah tetap menjalankan tugas dengan ketenangan yang sama seperti awal ia mengajar. Pengabdiannya lebih dari tiga dekade menjadi bukti bahwa merawat semesta pendidikan membutuhkan hati yang luas. Dan dengan cinta itulah ia terus berjalan mewariskan jejak yang akan hidup jauh setelah ia menutup masa tugasnya. (j) 

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor