Opini

Dari Selasar Sekolah, Inovasi Siswa MAN 9 Jakarta Ubah Pembelajaran Biologi Jadi Solusi Nyata

Senin, 15 Juni 2026
Dibaca 187 kali
blog

Jakarta (Humas MAN 9 Jakarta) – Di salah satu sudut selasar MAN 9 Jakarta, deretan tanaman hijau tumbuh subur di antara aktivitas belajar para siswa. Sekilas, tanaman-tanaman tersebut tampak seperti penghias lingkungan sekolah. Namun, bagi siswa kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026, tanaman itu menjadi laboratorium hidup yang menghadirkan pengalaman belajar berbeda sekaligus melahirkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan.

 

Di bawah bimbingan Guru Biologi, Tinia Leyli Shofia Ahmad para siswa diajak melihat biologi tidak sekadar sebagai mata pelajaran yang dipenuhi teori dan hafalan. Pembelajaran dirancang agar dekat dengan kehidupan sehari-hari, berangkat dari persoalan nyata di lingkungan sekolah, lalu diolah menjadi penelitian dan solusi yang aplikatif.

 

Perjalanan inovasi tersebut dimulai sejak awal semester ganjil melalui metode Lightning Decision Jam (LDJ), sebuah metode curah ide yang umum digunakan di perusahaan teknologi untuk menemukan solusi secara cepat dan kolaboratif.

 

Ruang kelas pun berubah menjadi ruang diskusi kreatif. Setiap siswa menuliskan berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan sekolah, mulai dari tanaman yang sering layu, limbah organik kantin yang belum dimanfaatkan, hingga kebutuhan sistem perawatan tanaman yang lebih efisien saat sekolah libur.

 

Seluruh ide kemudian dipetakan menggunakan matriks Effort versus Impact, yang membantu siswa menentukan solusi dengan dampak besar namun tetap realistis untuk dikerjakan. Dari proses tersebut lahirlah tiga proyek penelitian yang masing-masing dikembangkan oleh kelas XII-A, XII-D, dan XII-E.

 

Kelas XII-A memilih mengembangkan penelitian mengenai sistem hidroponik berbasis sensor otomatis. Mereka membandingkan pertumbuhan tanaman kangkung yang ditanam menggunakan sistem hidroponik wick konvensional dengan sistem otomatis berbasis sensor. Penelitian ini menjadi upaya memperkenalkan konsep pertanian perkotaan modern sekaligus mengenalkan pentingnya otomatisasi dalam pengelolaan tanaman.

 

Sementara itu, siswa kelas XII-D menaruh perhatian pada persoalan sampah organik di lingkungan sekolah. Melalui proyek bertajuk “Peel, Waste, and Leaf”, mereka mengolah limbah berupa kulit pisang, sisa makanan kantin, dan daun kering menjadi pupuk organik cair (POC). Berbagai formula pupuk tersebut kemudian diuji pada tanaman kangkung untuk mengetahui efektivitasnya dalam mendukung pertumbuhan tanaman.

 

Adapun siswa kelas XII-E menghadirkan inovasi sederhana namun bermanfaat melalui SIRATA (Alat Siram Tanaman Konvensional). Berangkat dari keprihatinan terhadap tanaman hias dalam ruangan yang sering layu akibat penyiraman yang tidak teratur, mereka merancang alat penyiram berbasis prinsip kapilaritas dengan memanfaatkan botol dan bahan bekas. Inovasi ini mampu menjaga ketersediaan air bagi tanaman tanpa memerlukan listrik serta mendorong budaya peduli lingkungan di sekolah.

 

Rangkaian penelitian yang berlangsung selama berbulan-bulan tersebut tidak berhenti sebagai tugas kelas semata. Para siswa juga didorong untuk mempublikasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat melalui seminar daring berskala nasional.

 

Pada awal tahun 2026, mereka berhasil menyelenggarakan berbagai webinar, di antaranya Webinar KANGAROO (Kangkung and Animal Research Observatory), Webinar TIRAVENA, dan Webinar AMERTA. Menariknya, seluruh kegiatan tersebut dikelola secara mandiri oleh para siswa, mulai dari administrasi pendaftaran, penyusunan agenda, pembuatan materi publikasi, hingga mengundang narasumber dari berbagai perguruan tinggi ternama.

 

Pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya kemampuan akademik siswa, tetapi juga mengasah keterampilan manajerial, kepemimpinan, komunikasi, serta kerja sama tim.

 

Setiap proyek penelitian juga dilengkapi dengan laporan akhir berbentuk karya tulis ilmiah, dokumentasi kegiatan, laporan keuangan, serta penilaian antarteman (peer assessment). Melalui proses ini, siswa belajar tentang integritas, transparansi, tanggung jawab, dan pentingnya menghargai kontribusi setiap anggota tim.

 

Praktik pembelajaran yang diterapkan di MAN 9 Jakarta Timur menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

 

Dari selasar sekolah yang sederhana, para siswa MAN 9 Jakarta Timur telah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat tumbuh menjadi solusi nyata. Biologi tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang hanya dipenuhi teori, melainkan menjadi ruang bagi lahirnya inovasi, kolaborasi, dan karakter kepemimpinan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan/artikel/Tinia

 

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor