Berita

Tak Terhalang Ombak dan Jarak, 11 Catin Ikuti Bimwin Hybrid KUA Kepulauan Seribu Utara

Kamis, 21 Mei 2026
Dibaca 471 kali
blog

Pulau Kelapa, Jakarta (Humas Kemenag Kepulauan Seribu) -- Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kepulauan Seribu Utara kembali menggelar Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi sebelas pasang calon pengantin (catin), pada Kamis (21/5/2026). 


Kegiatan yang berlangsung di Gedung Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Kepulauan Seribu Utara, Pulau Kelapa ini dilaksanakan dengan metode hybrid, memadukan pembelajaran luring dan daring guna menjangkau seluruh peserta secara lebih luas.


Pelaksanaan Bimwin yang digagas oleh para Penghulu dan Penyuluh Agama Islam KUA Kepulauan Seribu Utara tersebut menjadi bukti nyata komitmen KUA dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang inklusif, adaptif, dan responsif terhadap kondisi masyarakat wilayah kepulauan.


Metode hybrid dipilih agar para calon pengantin yang terkendala hadir secara langsung tetap dapat mengikuti seluruh rangkaian materi secara utuh dan komprehensif. Para peserta berasal dari berbagai wilayah di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, seperti Kelurahan Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan.


Beragam kendala geografis menjadi alasan penerapan metode ini, mulai dari jauhnya jarak antarpulau, keterbatasan transportasi laut yang tidak tersedia setiap hari, hingga adanya peserta yang bekerja di luar wilayah Kepulauan Seribu. Bahkan, salah satu peserta mengikuti kegiatan secara daring dari Serang, Banten.


Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala KUA Kepulauan Seribu Utara, Moh. Riadlul Bad'i. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Bimbingan Perkawinan bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan bekal penting untuk membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan.


“Bimbingan Perkawinan ini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan investasi awal bagi setiap pasangan untuk membangun keluarga yang kokoh dan harmonis. Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini menjadi cahaya dalam perjalanan rumah tangga yang akan segera dimulai,” ujarnya.


Pada sesi pembuka, Moh. Riadlul Bad'i juga menyampaikan materi tentang konsep kesalingan dalam kehidupan rumah tangga. Ia menekankan pentingnya kehadiran yang utuh, baik secara fisik maupun emosional, sebagai pondasi utama dalam membangun keluarga yang langgeng.


“Kesalingan adalah ruh dari sebuah pernikahan. Ketika suami dan istri hadir sepenuhnya satu sama lain, dalam suka maupun duka, maka rumah tangga akan tumbuh menjadi tempat yang aman dan penuh kasih,” tegasnya.


Bimwin kali ini menghadirkan tiga Penyuluh Agama Islam KUA Kepulauan Seribu Utara sebagai fasilitator dengan materi yang saling melengkapi.


Pada sesi berikutnya, Penyuluh Agama Islam, Iklima, membawakan materi tentang lima pilar perkawinan yang harus dipahami setiap pasangan. Ia menjelaskan pentingnya membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah melalui fondasi yang kokoh sejak awal pernikahan.


“Pernikahan bukan sekadar seremoni yang indah di awal, tetapi komitmen jangka panjang yang membutuhkan kesiapan ilmu, mental, dan spiritual. Lima pilar ini adalah bekal agar rumah tangga tidak mudah goyah,” ungkapnya.


Ia menjelaskan lima pilar tersebut meliputi berpasangan (zawaj) sebagai kesadaran bahwa suami istri merupakan mitra sejajar, janji kokoh (mithaqan ghalidza) sebagai ikatan suci di hadapan Allah, kesalingan (mu’asyarah bil ma’ruf) dalam memperlakukan pasangan dengan baik, musyawarah dalam pengambilan keputusan, serta saling ridha (taradin) sebagai landasan kebahagiaan bersama.


Selanjutnya, Penyuluh Agama Islam, Juhaeriyah, menyampaikan materi psikologi keluarga dengan pendekatan hangat dan interaktif. Ia mengajak para calon pengantin memahami pentingnya kecerdasan emosional dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.


“Masalah dalam rumah tangga bukan untuk dihindari, tetapi untuk dikelola bersama. Kunci keharmonisan terletak pada komunikasi yang jujur, empati, dan kesediaan untuk saling memahami,” ujarnya.


Menutup rangkaian materi, Penyuluh Agama Islam lainnya, Istiana Rahmah, membahas tema pemenuhan kebutuhan keluarga. Ia menegaskan bahwa kebutuhan keluarga tidak hanya berkaitan dengan aspek materi, tetapi juga mencakup kebutuhan emosional, spiritual, dan sosial.


“Memenuhi kebutuhan keluarga adalah tanggung jawab bersama yang diemban dengan penuh kesadaran dan kasih sayang. Ketika kedua belah pihak saling berkontribusi dan saling menopang, keluarga akan tumbuh menjadi tempat berteduh yang sesungguhnya,” pungkasnya.


Pelaksanaan Bimwin hybrid ini kembali menunjukkan transformasi KUA Kepulauan Seribu Utara sebagai lembaga pelayanan umat yang inovatif dan adaptif di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan. Meski dipisahkan jarak antarpulau, semangat untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor