Jakarta (Humas Kemenag DKI) --- Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin, mendorong DKI Jakarta menjadi salah satu kota wakaf uang di Indonesia. Hal tersebut disampaikan saat peluncuran Gerakan Jakarta Berwakaf yang digagas oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta.
Kamaruddin Amin mengapresiasi langkah Kanwil Kemenag DKI Jakarta yang telah melaksanakan salah satu program prioritas Kementerian Agama, yakni pemberdayaan ekonomi umat melalui gerakan wakaf uang.
“Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada teman-teman Kanwil Kemenag DKI Jakarta yang telah melaksanakan salah satu program prioritas Kementerian Agama, yaitu pemberdayaan ekonomi umat. Hari ini kita melaunching Gerakan Wakaf Uang yang potensinya sangat besar,” ujar Kamaruddin Amin saat diwawancarai media, Senin (9/3).
Ia berharap gerakan tersebut menjadi langkah awal dari berbagai upaya untuk mengoptimalkan potensi wakaf di tengah masyarakat. Menurutnya, dengan potensi umat yang besar, wakaf uang dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat ekonomi umat sekaligus mengatasi persoalan kemiskinan.
“Kedepan kita berharap Jakarta bisa menjadi salah satu kota wakaf sehingga dapat menjadi model dan contoh bagi gerakan wakaf di Indonesia,” tambahnya.
Kamaruddin menjelaskan bahwa hingga saat ini gerakan wakaf uang yang diinisiasi oleh Kementerian Agama telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Dalam kegiatan tersebut, dana wakaf di lingkungan Kanwil Kemenag DKI yang berhasil dihimpun telah mencapai lebih dari Rp 600 juta, dan diharapkan akan terus bertambah seiring meningkatnya partisipasi masyarakat.
Menurutnya, potensi wakaf di Indonesia sangat besar dan dapat menjadi instrumen yang kuat untuk membantu menuntaskan kemiskinan di tanah air. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan wakaf.
“Kita ingin mengajak seluruh warga bangsa, khususnya umat Islam, untuk bersama-sama berwakaf agar kita bisa berkontribusi dalam menuntaskan kemiskinan di Indonesia yang masih menjadi tantangan besar,” ujarnya.
Ia juga menuturkan bahwa gerakan wakaf uang tidak hanya melibatkan aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan, termasuk lembaga pendidikan, pesantren, hingga masyarakat luas.
“Bahkan calon pengantin kita harapkan bisa ikut berwakaf, supaya cintanya abadi sebagaimana wakaf. Begitu juga siswa-siswi madrasah, pondok pesantren, dan ASN bisa bersama-sama berwakaf,” jelasnya.
Kamaruddin menambahkan, membangun budaya berderma sejak dini sangat penting. Misalnya, jika setiap siswa madrasah berwakaf Rp10 ribu dalam setahun, maka potensi dana yang terkumpul akan sangat besar mengingat jumlah siswa madrasah di Indonesia mencapai puluhan juta orang.
Ia mencontohkan beberapa daerah yang telah lebih dahulu mengembangkan gerakan wakaf uang, salah satunya di Jawa Timur yang menurutnya telah berhasil menghimpun dana wakaf hingga lebih dari Rp17 miliar.
“Saya yakin DKI Jakarta juga akan menyusul bahkan bisa lebih besar lagi. Jika ada kesadaran kolektif dari seluruh anak bangsa, wakaf ini benar-benar dapat berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia,” pungkasnya.