Pulau Tidung, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dengan penuh semangat kembali melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam bagi peserta didik SMK Negeri 61 Jakarta. Kegiatan ini berlangsung ba’da Salat Magrib berjamaah di Mushola Baitul Ilmi, Asrama SMK Negeri 61 Jakarta, Pulau Tidung, pada Rabu (21/1/2026).
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan Salat Magrib berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi keagamaan bertema “Meneladani Salat Rasulullah SAW”. Tema tersebut bertujuan menanamkan pemahaman bahwa salat bukan hanya kewajiban ritual semata, tetapi juga sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, serta kualitas kepribadian generasi muda.
Bimbingan dan penyuluhan disampaikan oleh dua Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, yaitu Hilmani dan Nurcholish. Keduanya menekankan pentingnya menjadikan salat sebagai fondasi utama dalam kehidupan, khususnya bagi para pelajar yang sedang berada pada fase pembentukan jati diri.
Dalam penyampaian materinya, Hilmani menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberikan teladan salat yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, kekhusyukan, dan ketenangan dalam setiap gerakan. Ia menegaskan bahwa salat yang dicontohkan Rasulullah bukanlah salat yang dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan salat yang menghadirkan tuma’ninah dan penghayatan makna ibadah.
“Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk melaksanakan salat dengan tenang dan penuh kesadaran, karena dari situlah lahir kekhusyukan dan ketenangan jiwa,” ujar Hilmani.
Menurutnya, tidak sedikit orang yang melaksanakan salat secara rutin, namun belum merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut, lanjutnya, bukan berarti salatnya tidak sah, tetapi menunjukkan bahwa salat tersebut belum sepenuhnya diteladani sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
“Salat yang benar seharusnya mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika belum terasa pengaruhnya, maka perlu kita evaluasi kualitas salat kita,” jelasnya.
Hilmani juga mengingatkan bahwa kekhusyukan salat berawal dari niat yang hidup dan kesadaran bahwa seorang hamba sedang menghadap Allah SWT. Ia mengajak para siswa untuk menjadikan salat sebagai momen refleksi diri, bukan sekadar rutinitas harian.
“Saat berdiri dalam salat, hadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan langsung dengan Allah. Dari situlah salat akan memberi kekuatan moral dalam kehidupan,” tambahnya.
Sementara itu, Nurcholish dalam penyampaian bimbingannya menyoroti pentingnya memahami bacaan salat dan mengaitkannya dengan sikap hidup sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa bacaan salat, khususnya Surah Al-Fatihah, mengandung nilai tauhid, ketergantungan kepada Allah, serta komitmen moral yang harus tercermin dalam perilaku.
“Setiap bacaan dalam salat mengandung pesan kehidupan. Jika kita memahaminya, maka salat akan membentuk cara berpikir dan bersikap kita,” ungkap Nurcholish.
Ia menegaskan bahwa salat yang benar akan melahirkan akhlak mulia seperti kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, teladan salat Rasulullah SAW tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga pada hubungan manusia dengan sesama.
“Salat yang meneladani Rasulullah SAW akan melahirkan pribadi yang berakhlak baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak untuk merefleksikan apakah salat yang selama ini mereka lakukan telah memberikan pengaruh positif terhadap sikap mereka di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Para penyuluh agama menegaskan bahwa salat yang dilakukan dengan benar akan menjadi pengendali perilaku sekaligus benteng moral dari perbuatan menyimpang.
Melalui kegiatan bimbingan dan penyuluhan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan berharap para siswa-siswi SMK Negeri 61 Jakarta mampu memaknai salat sebagai kebutuhan spiritual dan sarana pembentukan karakter, bukan sekadar kewajiban formal. Dengan demikian, salat diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat pembinaan keagamaan dan moderasi beragama di kalangan pelajar, khususnya di wilayah Kepulauan Seribu.