Berita

Penyuluh Agama KUA Kepulauan Seribu Selatan Adakan Kajian Fathul Qarib dan Konsultasi Keagamaan secara Daring

Selasa, 20 Januari 2026
Dibaca 133 kali
blog

Pulau Tidung, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Para Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan kembali mengadakan kegiatan Kajian Kitab Fathul Qarib dan Konsultasi Keagamaan, yang berlangsung di Aula KUA dan juga daring melalui Meeting Room KUA Kepulauan Seribu Selatan, pada Selasa (20/1/2026).


Kajian kitab Fathul Qarib dibawakan oleh salah satu Penyuluh Agama Islam, Muhammad Fikri Adrian, yang menjelaskan perbedaan pendapat ulama terkait pemakaian siwak, khususnya bagi orang yang sedang berpuasa. Ia menerangkan bahwa dalam Kitab Fathul Qarib, para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai hukum siwak pada waktu-waktu tertentu.


“Sebagian ulama berpendapat bahwa siwak tetap sunnah dilakukan kapan saja, baik sebelum maupun sesudah zawal, karena tujuan utama siwak adalah menjaga kebersihan mulut dan menyempurnakan ibadah,” jelas Fikri.


Namun demikian, Fikri juga menyampaikan bahwa terdapat pendapat lain dari kalangan ulama yang memakruhkan penggunaan siwak setelah zawal bagi orang yang berpuasa.


“Pendapat ini didasarkan pada hadis yang menyebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa bernilai mulia di sisi Allah, sehingga sebagian ulama memilih untuk menjaga kondisi tersebut,” terangnya.


Menurut Fikri, perbedaan pandangan ini menunjukkan keluasan dan kelenturan fikih Islam dalam menyikapi berbagai kondisi umat.


“Ikhtilaf para ulama merupakan rahmat. Umat diberikan ruang untuk mengikuti pendapat yang diyakini paling kuat atau paling sesuai dengan kondisi masing-masing, selama tetap berpegang pada dalil yang sahih,” ujarnya.


Ia juga menambahkan bahwa para ulama sepakat terdapat waktu-waktu tertentu yang sangat dianjurkan untuk bersiwak, seperti setelah bangun tidur, saat mulut lama tidak digunakan untuk makan dan minum, serta ketika hendak melaksanakan salat agar ibadah dilakukan dalam keadaan bersih dan sempurna. Dalam konteks kehidupan modern, kesunnahan siwak dapat diimplementasikan melalui kebiasaan menjaga kebersihan mulut.


“Substansi siwak adalah kebersihan. Maka, menyikat gigi secara rutin dengan alat modern tetap sejalan dengan semangat sunnah siwak itu sendiri,” ungkapnya.


Selain membahas siwak, Fikri juga mengulas materi furūḍ al-wuḍū’ atau rukun wudu. Ia menegaskan bahwa niat merupakan rukun utama wudu yang tempatnya di dalam hati dan harus beriringan dengan permulaan membasuh wajah.


“Niat bukan dilafalkan, tetapi dihadirkan dalam hati saat mulai membasuh wajah, dengan batas wajah yang jelas sebagaimana dijelaskan para ulama,” tuturnya.


Ia juga menjelaskan perbedaan antara ghusl (membasuh) dan mash (mengusap), serta pentingnya memastikan air merata pada anggota wudu, termasuk siku dan kaki, serta melaksanakan wudu secara tertib sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah.


“Tertib dalam wudu bukan sekadar urutan, tetapi bagian dari ketaatan terhadap perintah syariat yang harus dijaga,” tegasnya.


Selain pengajian kitab, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan sesi tanya jawab dan konsultasi keagamaan bersama para Penyuluh Agama Islam KUA Kepulauan Seribu Selatan. Masyarakat yang hadir melalui meeting room KUA Kepulauan Seribu Selatan, diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai persoalan keagamaan, baik terkait ibadah, muamalah, maupun persoalan sosial keagamaan lainnya.


Pembaca Kitab Fathul Qarib, Muhammad Fikri Adrian, berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran fikih yang aplikatif dan membumi.


“Kami berharap masyarakat tidak hanya memahami fikih secara tekstual, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan bijak dan penuh hikmah,” ujarnya.


Ia juga menekankan bahwa konsultasi keagamaan merupakan wujud kehadiran negara melalui KUA dalam memberikan layanan keagamaan yang responsif dan solutif bagi masyarakat.


Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan keagamaan rutin yang dirancang untuk menjangkau seluruh pulau, mengingat kondisi geografis Kepulauan Seribu yang tersebar. Melalui metode daring, para penyuluh dan masyarakat dari berbagai pulau tetap dapat mengikuti kajian kitab klasik secara optimal.


Tampak hadir dalam kegiatan tersebut para Penyuluh Agama Islam KUA Kepulauan Seribu Selatan, serta masyarakat dari berbagai pulau yang mengikuti pengajian secara daring.

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor