Pulau Pari, Jakarta (Humas Kemenag Kepulauan Seribu) — Penyuluh Agama Islam KUA Kepulauan Seribu Selatan menyampaikan pesan penguatan kesatuan iman, ibadah, dan akhlak dalam kegiatan kultum Subuh di Masjid Al-Ikhlas Pulau Pari, Kamis (23/4/2026), sebagai bagian dari pembinaan keagamaan masyarakat.
Tausiah pertama disampaikan oleh Kurnain dengan tema “Nilai-Nilai Berpasangan dalam Al-Qur’an: Kesatuan Iman, Ibadah, dan Akhlak.” Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an kerap menyandingkan dua perintah dalam satu ayat yang memiliki keterkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam kajian tafsir, Kurnain menyebut konsep tersebut sebagai dalālah al-iqtirān, yakni indikasi bahwa dua hal yang disebut bersamaan mengandung pesan keterpaduan makna. Ia mencontohkan perintah taat kepada Allah dan Rasul sebagaimana dijelaskan dalam berbagai ayat Al-Qur’an.
Mengutip pandangan Ibnu Katsir, ia menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasul merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah, karena Rasul berperan sebagai penyampai wahyu dan penjelas syariat. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa pengulangan kata “taatilah” menunjukkan otoritas Rasul yang wajib diikuti secara mandiri.
“Ketika Al-Qur’an menyandingkan dua perintah, itu bukan tanpa makna. Di situlah letak pesan bahwa iman tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan yang utuh kepada Allah dan Rasul-Nya,” ujar Kurnain.
Ia juga menguraikan pasangan perintah mendirikan salat dan menunaikan zakat sebagai bentuk keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Menurutnya, kesalehan tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga kepedulian sosial.
Mengacu pada penafsiran Fakhruddin Ar-Razi, Kurnain menyampaikan bahwa kesempurnaan ibadah terletak pada keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial. “Salat adalah hak Allah, sedangkan zakat adalah hak manusia. Keduanya tidak dapat dipisahkan,” tambahnya.
Pada bagian akhir, ia menyoroti pentingnya bersyukur kepada Allah yang disandingkan dengan kewajiban berbakti kepada orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan vertikal dan horizontal harus berjalan selaras dalam kehidupan seorang Muslim.
Sementara itu, tausiah kedua disampaikan oleh Irvan Daddy yang mengangkat tema empat tanda orang yang celaka di dunia dan akhirat. Ia menyebut di antaranya adalah melupakan dosa, mengingat-ingat kebaikan, membandingkan diri dalam urusan dunia, serta meremehkan orang lain dalam urusan agama.
“Orang yang celaka adalah mereka yang sibuk mengingat kebaikannya, tetapi lupa akan dosanya. Padahal keselamatan justru lahir dari hati yang selalu merasa kurang dan terus memperbaiki diri,” ungkapnya.
Ia menutup tausiah dengan mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan introspeksi diri dan menjaga keseimbangan hidup antara urusan dunia dan akhirat.
“Jangan tertipu dengan dunia dan jangan merasa lebih baik dari orang lain. Ukurlah diri dengan akhirat, perbanyak istighfar, dan teruslah memperbaiki diri agar kita termasuk orang-orang yang selamat,” pesannya.
Kegiatan kultum Subuh ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan penyuluh agama dalam memperkuat pemahaman keislaman masyarakat di wilayah Kepulauan Seribu Selatan, khususnya dalam membangun keseimbangan antara akidah, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.