Berita

Kegiatan Waisak Di Vihara Maha Vira Graha, Menag Nasaruddin Ungkap Persamaan Inti Ajaran Buddha Dengan Islam

Sabtu, 30 Mei 2026
Dibaca 383 kali
blog

Menteri Agama Nasaruddin Umar

Jakarta [Humas Kankemenag Jakarta Utara] --- Masih dalam rangkaian acara Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era Tahun 2026, sejumlah kegiatan keagamaan Buddha di berbagai Vihara masih digelar. Di Vihara Maha Vira Graha Pusat, Lodan Ancol misalnya, kegiatan agama Buddha dibersamai oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar pada Sabtu, (30/5/2026).

 

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan kesannya yang mendalam dengan berbagai kegiatan perayaan Waisak yang digelar oleh umat Buddha khsususnya di Vihara Maha Vira Graha hari ini. Waisak menurut Menag adalah peringatan kelahiran manusia suci, Siddhartha Gautama.

 

"Waisak adalah hari suci terbesar umat Buddha untuk memperingati "Tri Suci Waisak", yaitu tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama yaitu kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian penerangan sempurna menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha (Parinibbana)," kata Menag dalam sambutan.

 

Hal menarik yang disampaikan oleh Menag Nasaruddin adalah terdapat kemiripan perjalanan kehidupan suci Shiddartha Gautama dengan nabi Muhammad SAW soal meditasi yang dilakukan oleh keduanya yang memakan waktu yang hampir sama yaitu 6 tahun.

 

Kata Menag, Siddhartha Gautama mencapai pencerahan sempurna setelah bermeditasi di bawah Pohon Bodhi (atau Pohon Ara Suci). Pohon ini terletak di Bodh Gaya, India, tempat di mana beliau bersumpah untuk tidak bangkit sebelum menemukan jawaban atas penderitaan manusia.

 

"Sementara Rasulullah Muhammad SAW bermeditasi/berkhalwat di Goa Hira selama 6 tahun lamanya. Dari situlah muncul suatu revolusi sosial masyarakat yang tertindas menjadi survive dan terjadilah keadilan dan kearifan dan kebijaksanaan di masyafakat kala itu. Begitupun dengan apa yang telah dilakukan oleh Shiddartha Gautama," terang Menag.

 

Menurut Nasaruddin, persamaan antara Buddha dan Islam terletak pada inti ajaran. Universalitas ajaran Buddha sangat mirip dengan universalitas ajaran Islam. Dengan kata lain, Menag menegaskan, lebih mudah mencari titik temu antara Buddha dan Islam ketimbang mencari perbedaannya.

 

"Sulit rasanya mencari substansi perbedaan Buddha dan Islam. Maka kami hadir di sini untuk mengapresiasi rekan-rekan Buddha dan mengajak untuk lebih dekat terhadap ajaran agama masing-masing," imbau Nasaruddin.

 

Menag meyakinkan, semakin dekat umat dengan ajaran agamanya, maka akan semakin ideal dan sempurna masyarakat atau pengikutnya. Namun sebaliknya, semakin berjarak umat dengan ajaran agama, maka semakin rusaklah masyarakatnya. 

 

"Tidak berbuat jahat, menambah kebajikan dan mensucikan fikiran. Inilah inti ajaran Buddha," kata Menag mengutip sabda Buddhis dalam Dhammapada 103. 

 

Sementara itu Penyelenggara Buddha Kankemenag Kota Jakarta Utara, Mugiyanto yang turut hadir dalam kegiatan mengaku tercerahkan dengan arahan Menag yang mengajak umat untuk lebih mematuhi ajaran agamanya sendiri.

 

"Menag mengajarkan kita tentang arti persamaan ajaran agama yaitu untuk selalu berbuat baik dan mensucikan fikiran dari segala hal yang merugikan manusia," pungkas Mugiyanto.

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor