Jakarta (Humas Kanwil Kemenag DKI) --- Menyongsong lima abad Jakarta, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, menegaskan tiga khidmah utama Kementerian Agama dalam memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat ibukota. Tiga khidmah tersebut mencakup penguatan kehidupan beragama yang kondusif, pendidikan agama yang substantif, serta pemberdayaan masyarakat melalui zakat dan wakaf.
“Kementerian Agama tidak bisa bekerja sendiri. Kami sangat mengandalkan para tokoh agama dalam hal bagaimana pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, memberikan pembinaan kepada umat beragama,” ujar Adib, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, khidmah pertama Kementerian Agama adalah menjaga suasana keberagamaan di Jakarta tetap kondusif sekaligus mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai ajaran agama.
“Khidmah yang pertama adalah bagaimana kita terus membangun suasana keberagamaan di Jakarta yang terus kondusif. Tugas Kementerian Agama tidak lepas dari kemitraan dengan para ulama, yaitu bagaimana kita terus mendekatkan umat dengan ajaran agama,” katanya pada kegiatan Musyawarah Kerja Daerah (Muskerda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta.
Adib menilai kemitraan dengan para ulama dan tokoh agama menjadi bagian penting dalam merawat kehidupan sosial Jakarta yang majemuk. Keberagamaan, menurutnya, harus mampu menjadi kekuatan yang menghadirkan ketenteraman dan memperkuat harmoni di tengah masyarakat.
Sementara itu, khidmah kedua difokuskan pada penguatan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Kementerian Agama, kata Adib, tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga memastikan pembelajaran agama di sekolah berjalan secara optimal.
“Khidmah yang kedua adalah khidmah di bidang pendidikan. Kementerian Agama tidak hanya menyelenggarakan pendidikan keagamaan, tetapi juga memastikan pendidikan agama di sekolah-sekolah berjalan dengan baik,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan agama tidak cukup berhenti pada aspek simbolik ataupun semarak syiar. Nilai-nilai agama harus tercermin secara nyata dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sosial masyarakat.
“Kita perlu terus meningkatkan dari sisi substansi ajaran agama. Jangan hanya dari fenomena syiar, tetapi bagaimana ajaran agama itu kemudian berdampak secara substantif dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Adapun khidmah ketiga adalah memastikan kehidupan beragama memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Salah satu upaya yang terus didorong ialah optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi dan sosial.
“Khidmah yang ketiga adalah memastikan bagaimana keberagamaan itu berdampak dalam kehidupan bermasyarakat. Ini menjadi PR kita semua,” ungkapnya.
Lanjutnyaa, Adib mencontohkan pelaksanaan program Kampung Zakat di Kepulauan Seribu yang dikembangkan bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Program tersebut dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi, termasuk mendorong perubahan masyarakat penerima zakat atau mustahik menjadi masyarakat yang mampu menunaikan zakat atau muzaki.
“Ini adalah kerja nyata dengan adanya Kampung Zakat. Alhamdulillah, di Pulau Seribu saya kira ini bisa menjadi contoh untuk daerah-daerah lain di Jakarta untuk mengoptimalkan zakat, infak, dan sedekah bagi masyarakat kita yang paling bawah,” katanya.
Selain zakat, Kementerian Agama juga mendorong penguatan wakaf uang sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Adib menyebut Jakarta Selatan dan Jakarta Timur tengah dipersiapkan menjadi wilayah percontohan dalam pengembangan wakaf.
“Kami sedang melakukan upaya-upaya bagaimana wakaf ini kemudian menjadi instrumen penting dalam mengatasi persoalan sosial keumatan,” ujarnya.
Menjelang usia lima abad Jakarta, Adib berharap kolaborasi antara Kementerian Agama, MUI, pemerintah daerah, para ulama, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas Jakarta sebagai kota global yang maju tanpa kehilangan akar religius dan budaya masyarakatnya.
“Semoga Jakarta memasuki lima abad sebagaimana telah dirintis para ulama kita menjadi kota global yang tetap terus religius, mengedepankan budaya-budaya beragama, sehingga kemudian benar-benar menjadi kota yang membanggakan,” pungkasnya.