Bekasi (Humas) — Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Aplikasi Early Warning System (EWS) SiRUKUN bagi verifikator dan viewer di Hotel Aston Bekasi, Kamis (25/2/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem pencegahan dini konflik sosial berdimensi keagamaan di Indonesia.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, dalam sambutannya yang disampaikan secara virtual, menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung lantaran menghadiri agenda bersama Kepala Kankemenag di Jakarta Barat.
Dalam arahannya, Adib menegaskan bahwa implementasi aplikasi SiRUKUN sangat penting sebagai bagian dari upaya menjaga dan merawat kerukunan umat beragama.
“Kegiatan ini sangat penting untuk segera mengimplementasikan aplikasi yang sedang dikembangkan oleh Pusat Kerukunan. Sistem pencegahan dini konflik sosial berdimensi keagamaan ini menjadi bagian dari ikhtiar kita menjaga dan merawat kerukunan umat beragama di Indonesia,” ujarnya.
Ia mengapresiasi PKUB yang terus mengembangkan sistem pencegahan dini tersebut. Menurutnya, gagasan early warning system sebelumnya telah diinisiasi, namun masih terbatas pada lingkup internal umat Islam. Kini, melalui SiRUKUN yang berada di bawah PKUB, sistem tersebut dapat menjangkau seluruh umat beragama.
“Kerukunan umat beragama tidak hanya berbicara pada satu kelompok, tetapi juga kerukunan antarumat beragama. Di situlah potensi disharmoni bisa muncul. Karena itu, ketika sistem ini berada di Pusat Kerukunan, cakupannya menjadi lebih luas dan komprehensif,” jelasnya.
Adib juga menyampaikan bahwa Provinsi DKI Jakarta ditetapkan sebagai pilot project atau proyek percontohan dalam akselerasi implementasi aplikasi SiRUKUN. Menurutnya, posisi Jakarta sebagai barometer nasional menjadikan peran ini sangat strategis.
“Kami sangat menyambut baik dijadikannya DKI Jakarta sebagai proyek percontohan. Jakarta adalah barometer nasional, sehingga implementasi di sini diharapkan bisa menjadi model bagi daerah lain,” katanya.
Ia berharap seluruh unsur yang terlibat, mulai dari penyuluh agama, tokoh masyarakat, tokoh agama, viewer hingga verifikator, dapat bekerja optimal agar setiap potensi konflik dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Lebih lanjut, Adib menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian dan lembaga dalam mengoptimalkan sistem pencegahan dini tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pihak Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan memberikan apresiasi terhadap program ini dan membuka peluang kolaborasi lebih luas.
“Sistem pencegahan dini konflik ini tidak cukup hanya melibatkan internal Kementerian Agama. Perlu sinergi dengan kepolisian, TNI, pemerintah daerah, FKUB, ormas keagamaan, dan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.
Menurutnya, penguatan kerukunan umat beragama juga sejalan dengan program prioritas nasional, sehingga Kementerian Agama memiliki peran strategis sebagai tulang punggung dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa.
Di akhir sambutannya, Adib berharap implementasi aplikasi SiRUKUN dapat membawa manfaat luas bagi masyarakat serta memperkuat ketahanan sosial keagamaan di Indonesia.
“Semoga aplikasi ini membawa kebermanfaatan yang luas bagi bangsa dan negara, serta semakin memperkokoh kerukunan umat beragama di Indonesia,” pungkasnya.