Jakarta (Humas Kemenag Kepulauan Seribu) -- Semangat memperkuat nilai-nilai moderasi beragama terus ditanamkan di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Seribu melalui kegiatan Kultum Zuhur rutin yang digelar di Kantor Perwakilan Kemenag Kepulauan Seribu, pada Rabu (10/6/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh para pegawai Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Seribu, baik pejabat fungsional maupun pelaksana, berlangsung khidmat dan penuh perhatian. Kultum kali ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Nurcholis, dengan mengangkat tema "Penyuluh sebagai Garda Terdepan Pejuang Moderasi Beragama."
Dalam tausiahnya, Nurcholis menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi yang kokoh melalui Pancasila sebagai pemersatu seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan.
Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dijaga bersama. Salah satu upaya menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk adalah dengan menguatkan moderasi beragama sebagai cara pandang dan sikap dalam menjalankan ajaran agama secara adil, seimbang, dan menghormati perbedaan.
"Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Pancasila telah memberikan ruang yang sama bagi seluruh pemeluk agama untuk menjalankan keyakinannya. Karena itu, menjaga kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga negara," ujar Nurcholis.
Ia menjelaskan bahwa penyuluh agama memiliki peran strategis sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan, mencerahkan, dan memperkuat persatuan bangsa.
"Penyuluh agama adalah corong pemerintah sekaligus pelayan umat. Karena itu, penyuluh harus berada di garis depan dalam menjaga kehidupan beragama yang harmonis, membangun dialog, serta mengedukasi masyarakat agar memahami ajaran agama secara moderat dan penuh kasih sayang," katanya.
Dalam tausiahnya, Nurcholis juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:
'Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-'ālamīn'
'Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.'
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi landasan penting bahwa Islam hadir membawa kedamaian, kasih sayang, dan kebermanfaatan bagi seluruh manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun golongan.
"Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan hanya bagi umat Islam. Karena itu, setiap muslim harus mampu menghadirkan sikap yang membawa kedamaian, bukan permusuhan; menghadirkan kasih sayang, bukan kebencian; serta membangun persaudaraan, bukan perpecahan," jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan sebuah hadis yang menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan.
'Barang siapa yang menyakiti seorang dzimmi (non-Muslim yang hidup berdampingan secara damai), maka sungguh ia telah menyakitiku. Dan barang siapa menyakitiku, maka sungguh ia telah menyakiti Allah.'
Menurut Nurcholis, pesan tersebut menunjukkan betapa Islam sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap hak-hak sesama manusia dan melarang segala bentuk tindakan yang dapat menimbulkan permusuhan maupun diskriminasi.
"Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan bagaimana kita tetap teguh menjalankan ajaran agama masing-masing sambil menghormati hak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Di sinilah peran penyuluh agama menjadi sangat penting dalam memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat," ungkapnya.
Kegiatan Kultum Zuhur rutin ini menjadi salah satu sarana pembinaan spiritual bagi pegawai Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Seribu sekaligus wadah memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat dan berwawasan kebangsaan.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan seluruh pegawai semakin memahami pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat serta mampu menjadi teladan dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan moderasi beragama di tengah masyarakat Kepulauan Seribu yang majemuk dan harmonis.