Jakarta (Humas) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, menegaskan pentingnya membangun budaya belajar berkelanjutan melalui prinsip learn from, learn to, dan learn while sebagai fondasi penguatan mutu pendidikan madrasah.
Hal ini disampaikan saat membersamai kegiatan Rapat Kerja Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 14 Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurut Adib, perubahan yang terjadi di dunia pendidikan menuntut GTK untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri. Karena itu, setiap guru dan tenaga kependidikan harus memiliki semangat belajar yang kuat agar mampu memberikan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Dalam kesempatan tersebut, Adib kembali menekankan pentingnya penerapan prinsip learn from, learn to, learn while sebagai budaya kerja di lingkungan madrasah.
“Learn from berarti kita harus rendah hati untuk belajar dari siapa saja, dari pengalaman apa saja. Tidak ada yang sia-sia dari proses belajar,” jelasnya.
“Learn to berarti kita terus meningkatkan kompetensi, tidak puas dengan kemampuan yang ada hari ini. Guru harus terus berkembang,” lanjutnya.
“Dan learn while berarti setiap aktivitas kerja kita harus menjadi bagian dari proses belajar. Mengajar itu juga belajar, melayani itu juga belajar,” tegas Adib.
Ia menambahkan bahwa ketiga prinsip tersebut bukan sekadar konsep, melainkan harus menjadi kebiasaan kerja yang melekat dalam keseharian GTK madrasah.
“Kalau ini menjadi budaya, maka madrasah kita akan lebih adaptif, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi perubahan,” katanya.
Adib juga menyoroti pentingnya kesiapan madrasah dalam menghadapi tantangan era digital dan perkembangan teknologi pendidikan.
“Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama untuk menghadapi tantangan baru. Guru harus melek teknologi, harus kreatif, dan harus berani berubah,” ujarnya.
“Transformasi digital bukan pilihan, tetapi kebutuhan. Madrasah harus hadir sebagai pelaku, bukan hanya penonton dalam perubahan ini,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kompetensi guru harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan profesionalisme.
“Kompetensi itu penting, tetapi karakter jauh lebih penting. Guru harus menjadi teladan, baik di dalam maupun di luar kelas,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan sebuah madrasah tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang terus berkembang.
Adib menegaskan bahwa keberhasilan madrasah tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi oleh kualitas SDM yang ada di dalamnya.
“Saya selalu sampaikan, gedung bisa bagus, fasilitas bisa lengkap, tetapi kalau SDM-nya tidak bergerak, maka madrasah tidak akan maju,” ujarnya.
“Yang paling menentukan adalah semangat belajar, semangat berubah, dan semangat berkolaborasi,” tambahnya.
Ia juga mendorong penguatan budaya kerja kolaboratif di lingkungan madrasah.
“Tidak ada lagi kerja sendiri-sendiri. Yang kita butuhkan adalah kolaborasi, saling menguatkan, dan saling mendukung,” katanya.
Sementara itu, Kepala MAN 14 Jakarta, Nurmala, menyampaikan bahwa rapat kerja menjadi sarana penting untuk menyamakan persepsi dan langkah dalam mewujudkan visi madrasah yang unggul dan berdaya saing.
Ia menegaskan bahwa MAN 14 Jakarta akan terus berupaya menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan madrasah agar tetap kondusif bagi proses pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik.
“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan lingkungan MAN 14 Jakarta yang berkualitas, aman, nyaman, dan kondusif. Dengan dukungan seluruh GTK, kami optimistis madrasah ini akan terus berkembang dan memberikan layanan pendidikan terbaik bagi masyarakat,” kata Nurmala.