Jakarta (Humas MAN 21 Jakarta) — MAN 21 Jakarta menggelar kegiatan Outing Class yang dikemas dalam program Riset Lintas Budaya sebagai bagian dari implementasi kurikulum berbasis penelitian. Kegiatan ini dirancang sebagai tahap awal atau studi pendahuluan sebelum siswa melanjutkan ke tahap penelitian berikutnya.
Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MAN 21 Jakarta, Ella Maryati, menjelaskan bahwa pelaksanaan Riset Lintas Budaya telah dirancang sesuai pedoman kurikulum sekolah. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar perjalanan edukatif, melainkan bagian dari proses penelitian yang terstruktur.
“Outing Class, atau yang sekarang kita sebut Riset Lintas Budaya, semestinya menjadi tahap awal atau studi pendahuluan dan akan dilanjutkan dengan tahap penelitian berikutnya,” ujar Ella Maryati saat diwawancarai tim Humas MAN 21 Jakarta.
Ia menambahkan, dengan banyaknya lokasi yang dikunjungi, peserta didik tidak diwajibkan meneliti seluruh objek. Menurutnya, setiap kegiatan riset harus memiliki fokus agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Di tempat terpisah, Koordinator Riset MAN 21 Jakarta sekaligus anggota Tim Pengembang Madrasah, Arif Budiman, menyampaikan bahwa setiap kelompok siswa diberikan keleluasaan untuk menentukan satu topik atau tema penelitian sesuai minat mereka. Ia menegaskan bahwa kegiatan Outing Class tetap berada dalam koridor tujuan riset yang telah ditetapkan.
“Setiap kelompok dapat memfokuskan penelitian pada satu topik atau tema yang menjadi ketertarikannya. Jika keluar dari tujuan riset, maka Outing Class wajib dievaluasi dan dikembalikan pada tempatnya,” jelas Arif Budiman.
Menjawab kekhawatiran terkait fokus siswa selama kegiatan berlangsung, Arif Budiman menegaskan bahwa Outing Class tidak mengurangi keseriusan peserta didik dalam melakukan penelitian. Ia menyebut terdapat dua mekanisme yang diterapkan untuk menjaga fokus siswa.
“Pertama, peserta riset tetap diarahkan untuk membuat laporan perjalanan sehingga tidak ada yang semata-mata wisata. Kedua, anak-anak tetap serius karena tahap ini merupakan studi pendahuluan,” ujarnya di sela kegiatan mengajar.
Ia menjelaskan bahwa dalam studi pendahuluan, siswa diberi kesempatan untuk mengenali objek penelitian secara langsung meskipun belum dilakukan secara mendalam. Menurutnya, tahapan ini penting dalam proses penelitian karena memungkinkan penyesuaian judul maupun tema berdasarkan temuan awal di lapangan.
Arif Budiman juga memaparkan manfaat studi pendahuluan bagi peserta didik. “Studi pendahuluan bermanfaat untuk mengetahui secara pasti apa yang akan diteliti, mengetahui kepada siapa dan di mana informasi dapat diperoleh, serta memahami cara memperoleh data atau informasi,” jelasnya.
Pelaksanaan Riset Lintas Budaya di MAN 21 Jakarta ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta dalam mendorong penguatan pembelajaran berbasis riset di madrasah. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran sekaligus membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan metodologis yang bermanfaat bagi masyarakat.