Pulau Pramuka, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Memasuki hari kedua pelaksanaan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadan 1447 H di SMAN 69 Jakarta, para penyuluh agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Utara kembali memberikan pembinaan keagamaan dengan penuh semangat dan kekhusyukan, pada Kamis (26/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan spiritual selama tiga hari di bulan suci Ramadan yang bertujuan membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, berilmu, serta memiliki kesadaran beragama yang kuat di tengah dinamika kehidupan remaja masa kini.
Sejak pagi hari, seluruh peserta didik mengikuti kegiatan dengan antusias. Materi yang disampaikan dirancang secara sistematis dan aplikatif agar mudah dipahami serta relevan dengan kehidupan pelajar.
Materi pertama disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam, Doni Kuswandi Saputra, dengan tema “Niat dan Tujuan Hidup”. Ia mengajak para siswa untuk merenungkan pentingnya niat sebagai fondasi utama setiap amal perbuatan.
“Niat adalah kompas kehidupan. Jika niat kita lurus karena Allah, maka setiap langkah akan bernilai ibadah. Mulailah menyusun visi hidup sejak sekarang, agar masa depan kalian tidak berjalan tanpa arah,” ujar Doni di hadapan para siswa.
Selanjutnya, materi kedua dibawakan oleh Muhammad Faiz Fikri dengan tema “Wudhu dan Sholat”. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga praktik dan koreksi terhadap kesalahan yang sering terjadi dalam berwudhu dan melaksanakan sholat.
“Sholat bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan ruhani. Jika wudhunya benar dan sholatnya khusyuk, maka akhlak dan kedisiplinan kita juga akan ikut terjaga,” jelas Faiz.
Penyampaian dilakukan secara interaktif sehingga siswa dapat bertanya langsung dan memperbaiki pemahaman sesuai tuntunan syariat.
Memasuki sesi ketiga, Penyuluh Agama Islam Istiana Rahma memimpin diskusi kelompok terarah (FGD) dengan tema “Problematika Remaja”. Sesi ini menjadi ruang refleksi terbuka bagi para siswa untuk membahas berbagai tantangan seperti pengaruh pergaulan, tekanan akademik, media sosial, hingga pencarian jati diri.
“Remaja bukan masa untuk mencoba hal yang salah, tetapi masa untuk menemukan potensi terbaik diri. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya jika kita kembali pada nilai agama dan berdiskusi dengan orang yang tepat,” ungkap Istiana.
Diskusi berlangsung aktif dan hangat. Para siswa tampak terbuka menyampaikan pandangan serta pengalaman mereka, sehingga suasana menjadi suportif dan penuh empati.
Sebagai penutup, Juhaeriyah menyampaikan materi bertema “Keutamaan Al-Qur’an”. Ia menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, terlebih di bulan Ramadan yang dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
“Ramadan adalah momentum terbaik untuk kembali bersahabat dengan Al-Qur’an. Jangan hanya dibaca, tetapi pahami dan amalkan. Al-Qur’an adalah cahaya yang akan menuntun langkah hidup kita,” tuturnya dengan penuh haru.
Suasana reflektif terasa ketika para siswa diajak merenungi peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan seorang muslim, baik dalam aspek ibadah maupun perilaku sehari-hari.
Secara keseluruhan, kegiatan Sanlat Ramadan 1447 H hari kedua ini berjalan lancar, tertib, dan penuh makna. Melalui pembinaan yang komprehensif ini, diharapkan siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius yang kuat serta mampu menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang berkelanjutan.