Berita

Di Antara Rasa Sakit, Ada Harapan yang Datang Bersama Sebuah Doa

Rabu, 1 Juli 2026
Dibaca 17 kali
blog

Jakarta, (Humas Kankemenag Kota jakarta Timur) - Suara mesin monitor terdengar pelan mengiringi pagi di ruang perawatan Alia Hospital, Rabu (1/7/2026). Di balik pintu-pintu kamar, ada pasien yang sedang berjuang menahan nyeri, ada keluarga yang setia menunggu, dan ada harapan yang terus diperjuangkan meski tubuh terasa lemah.

 

Di tengah suasana itu, langkah dua Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Timur, Ari Muchtar Febriyanto dan Feni Melani, memasuki ruang perawatan dengan senyum hangat. Mereka tidak membawa obat ataupun alat medis. Yang mereka bawa adalah sesuatu yang tak kalah penting bagi proses penyembuhan: doa, penguatan, dan telinga yang siap mendengarkan.

 

Perlahan Feni dan Febri  demikian keduanya kerap disapa, menghampiri sebut saja, Mawar. Dengan senyum tertahan Mawar menyambut Feni dan Febri. Sebelum mengucapkan kalimat  doa, Feni mengajak pasien berbincang – bincang sebentar. Setelah pasien siap dan tenang mulailah Feni menundukkan kepala, menautkan kedua tangannya dan berdoa,

 

"Tuhan Yesus, kami percaya Engkau adalah sumber kekuatan dan kesembuhan. Jamahlah saudara kami yang sedang sakit, pulihkan tubuhnya, kuatkan hatinya, dan berikan damai sejahtera di setiap proses pemulihan,”…

 

Doa-doa mengudara. Feni yakin dengan doa yang dipanjatkan, tidak saja memberi pengharapan untuk pasien tetapi juga menumbuhkan harapan. Itulah  rutinitas yang kerap dilakukan penyuluh Agama dalam melakukan Bimbingan Rohani. Bimbingan rohani merupakan bagian dari program kerja kepenyuluhan yang bertujuan memberikan pendampingan spiritual kepada masyarakat, khususnya pasien yang sedang menjalani perawatan.

 

Hari itu, Keduanya melaksanakan bimroh bersama penyuluh agama dari Buddha, Hindu, dan Katolik; Bimroh ini Adalah bagian dari pelayanan rutin Kementerian Agama. Kehadiran mereka  tentu saja sangat membantu pasien dan menjadi pengingat bahwa kesembuhan bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga tentang jiwa yang tetap kuat menghadapi cobaan.

 

Bagi sebagian orang, rumah sakit bukan sekadar tempat menjalani pengobatan. Di sanalah rasa takut, cemas, dan putus asa sering kali muncul tanpa diundang. Diagnosis penyakit yang berat, rasa sakit yang berkepanjangan, hingga ketidakpastian akan hari esok menjadi beban yang tidak mudah dipikul.

 

Di saat-saat seperti itulah, kehadiran penyuluh agama menjadi sahabat perjalanan. Mereka datang bukan untuk memberikan jawaban atas semua persoalan, melainkan menemani setiap langkah perjuangan dengan kasih dan pengharapan.

 

"Kadang banyak pasien yang curhat dan mulai berkeluh kesah. Jadi, kami tidak hanya mendoakan dan membimbing pasien berdoa, tetapi juga memberikan dukungan dengan mendengarkan mereka," tutur Feni.

 

Kalimat-kalimat sederhana yang terucap dari hati sering kali menjadi pengobat yang tak terlihat. Bagi pasien, memiliki seseorang yang bersedia mendengar tanpa menghakimi dapat menjadi kekuatan tersendiri di tengah masa pemulihan.

 

Feni mengakui, tidak sedikit pasien yang mereka temui sedang menghadapi penyakit berat, termasuk kanker. Namun, di balik kondisi yang sulit itu, mereka selalu berusaha menyalakan kembali secercah harapan.

 

"Kami mengajak pasien untuk tetap memiliki pengharapan serta menerima kondisi yang sedang dihadapi dengan penuh keikhlasan. Jangan pernah putus asa. Tetaplah berusaha dan berdamailah dengan diri sendiri serta keadaan. Dengan berdamai dan menerima kenyataan bahwa kita sedang sakit, kita akan memperoleh kekuatan untuk menjalani proses pemulihan dengan lebih tenang dan penuh harapan," ujarnya.

 

Pagi itu, seorang pasien yang baru selesai menjalani operasi amandel secara khusus meminta didampingi dalam bimbingan rohani. Permintaan sederhana itu menjadi bukti bahwa di tengah rasa sakit, manusia tetap membutuhkan pegangan yang mampu menguatkan hati.

 

Bagi para penyuluh agama, setiap ruang perawatan menyimpan cerita yang berbeda. Ada air mata yang jatuh diam-diam, ada doa yang dipanjatkan dengan lirih, dan ada senyum yang perlahan kembali muncul setelah hati merasa dikuatkan.

 

Agenda rutin

Pelayanan seperti ini telah menjadi agenda rutin di Alia Hospital.

 

"Khusus di Rumah Sakit Alia, kami memiliki jadwal bimbingan rohani setiap hari Rabu pagi," jelas Feni.

 

Di balik rutinitas tersebut, sesungguhnya tersimpan makna yang jauh lebih besar. Sebab, tidak semua luka dapat dijahit oleh benang operasi, tidak semua rasa sakit dapat reda hanya dengan obat-obatan. Ada luka batin yang membutuhkan sentuhan kasih, ada kegelisahan yang membutuhkan ruang untuk didengarkan, dan ada hati yang kembali kuat hanya karena merasa tidak berjuang sendirian.

 

Pada akhirnya, kesembuhan bukan semata-mata tentang tubuh yang kembali sehat. Kesembuhan juga lahir ketika seseorang menemukan keberanian untuk menerima keadaan, memelihara harapan, dan percaya bahwa Tuhan tetap menyertai setiap langkah, bahkan di lorong-lorong rumah sakit yang penuh perjuangan.

 

Di sanalah, di antara aroma obat dan sunyinya ruang perawatan, doa-doa terus dipanjatkan. Dan terkadang, doa yang sederhana mampu menjadi obat yang paling menguatkan hati. (Ea)

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor