Jakarta (Humas Kanwil Kemenag DKI) --- Suasana gotong royong mewarnai kegiatan Kanwil Menyapa Umat di Pura Mustika Dharma, Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (14/6). Umat Hindu setempat bersama para tokoh agama, sesepuh, dan pengurus pura menyiapkan rangkaian kegiatan keagamaan menjelang Hari Raya Galungan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, bersama jajaran Kanwil Kemenag DKI Jakarta. Kehadiran Kemenag DKI menjadi bagian dari upaya mempererat silaturahmi dan memperkuat sinergi pemerintah dengan umat beragama di Jakarta.
Dalam pertemuan ini, Letnan Jenderal TNI I Nyoman Cantiasa menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kakanwil Kemenag DKI Jakarta dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran Adib menunjukkan perhatian Kemenag terhadap umat Hindu di Jakarta, khususnya di wilayah Cijantung dan sekitarnya.
“Kakanwil Menyapa ini adalah komitmen beliau. Kehadiran beliau menunjukkan kepedulian kepada umat yang ada di DKI Jakarta. Hari ini beliau meluangkan waktu untuk hadir menyapa umat Hindu di Pura Mustika Dharma,” ujar I Nyoman Cantiasa.
Ia menjelaskan, umat Hindu di lingkungan Pura Mustika Dharma sedang melaksanakan gotong royong untuk mempersiapkan rangkaian upacara Odalan dan Hari Raya Galungan. Umat bersama-sama merangkai janur, dan mempersiapkan berbagai sarana upacara keagamaan.
“Bapak Kakanwil dapat melihat langsung bagaimana umat bergotong royong, merangkai janur, menyiapkan banten, dan mempersiapkan rangkaian upacara. Semua ini dilakukan karena rasa cinta, kepedulian, dan tanggung jawab untuk menjaga ajaran agama Hindu,” katanya.
Menurut Nyoman, kegiatan gotong royong tersebut juga menjadi ruang pewarisan nilai kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja dapat menyaksikan secara langsung semangat kebersamaan, kepedulian, serta tanggung jawab umat dalam menjaga tradisi keagamaan.
“Di sini juga tampak adanya transfer nilai kepada generasi muda. Mereka melihat orang tua dan tokoh umat bekerja bersama dalam menjaga agama, budaya, dan tradisi,” ucapnya.
Nyoman juga menyoroti tema kegiatan yang menekankan sinergitas dan kolaborasi umat beragama dalam menyongsong lima abad Jakarta. Ia menyebut sinergi sebagai kemampuan untuk berjalan beriringan dalam perbedaan, sedangkan kolaborasi menjadi jalan untuk memperkuat persaudaraan.
“Sinergi berarti kita berjalan beriringan dalam perbedaan. Kolaborasi berarti kita bersama-sama mewujudkan persaudaraan, menjaga toleransi, moderasi beragama, gotong royong, dan persatuan bangsa,” jelasnya.
Ia menilai kehadiran Kakanwil Kemenag DKI Jakarta menjadi jembatan dalam memperkuat hubungan antara pemerintah dan umat beragama. Peran Kemenag, menurutnya, sangat strategis dalam menjaga keharmonisan kehidupan beragama di Jakarta.
“Beliau hadir untuk menjembatani kita dalam meningkatkan kerukunan, nilai toleransi, moderasi beragama, gotong royong, dan persatuan bangsa,” ujarnya.
Nyoman berharap kehadiran Kemenag DKI Jakarta di Pura Mustika Dharma dapat membawa manfaat bagi umat Hindu dan memperkuat kehidupan beragama yang rukun, damai, serta penuh persaudaraan.
“Semoga kehadiran Bapak Kakanwil membawa manfaat, menjadi berkah bagi umat Hindu, khususnya di wilayah Cijantung dan sekitarnya, serta memperkuat kehidupan beragama yang rukun dan damai,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, menyampaikan bahwa gotong royong umat Hindu di Pura Mustika Dharma merupakan contoh nyata kuatnya nilai kebersamaan di tengah masyarakat. Ia menilai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan juga dapat menjadi ruang memperkuat hubungan sosial.
“Gotong royong ini tidak semata-mata mempersiapkan upacara keagamaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, saling mengenal, dan saling memberikan dukungan. Ini tentu menguatkan kita sebagai sebuah bangsa,” ujar Adib dihadapan ratusan umat Hindu Se Jabodetabek.
Adib juga mengajak umat beragama terus menjaga kerukunan sebagai fondasi kehidupan bersama. Menurutnya, Jakarta sebagai kota global berbudaya membutuhkan kontribusi seluruh umat beragama, termasuk umat Hindu.
“Jakarta tidak mungkin membangun seperti sekarang tanpa kontribusi umat beragama, termasuk umat Hindu yang ada di Jakarta. Kontribusi Bapak dan Ibu semua sangat penting bagi terbangunnya Jakarta sebagai kota global berbudaya,” pungkasnya.