Jakarta [Humas Kankemenag Jakarta Utara] --- Kakankemenag Kota Jakarta Utara Mawardi Abdul Gani membuka kegiatan Pelatihan Pembelajaran Koding & Kecerdasan Artifisial yang diadakan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyyah (KKMI) Cilincing I di MIN 22 Jakarta pada Sabtu, (7/2/2026).
Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan guru madrasah pada proses menulis instruksi atau skrip menggunakan bahasa pemrograman tertentu [koding], serta simulasi kecerdasan manusia yang dimodelkan dalam mesin dan diprogram untuk berpikir, belajar, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan secara mandiri [AI] ini digelar selama 2 hari dan diikuti 190 guru 14 MI se-KKMI Cilincing I.
Dalam arahannya Kakankemenag menyebut bahwa kegiatan ini merupakan sebuah investasi yang dibahasakannya sebagai investasi leher ke atas di mana seseorang sedang menambah kemampuan, ilmu dan pengetahuannya sebagai guru madrasah.
"Investasi semacam ini niscaya akan menambah value diri menjadi pintar dan lebih banyak pengetahuan dan kompetensi sebagai guru madrasah," buka Mawardi.
Kata Mawardi, profesi seorang guru berada di level kedua jika diilustrasikan sebagai sebuah Piramida yang memiliki tekstur bangunan besar di bawah dan mengerucut ke atas. Di level pertama, Mawardi menyebutnya sebagai profesi pekerja yang bisa dilakukan oleh seseorang tanpa harus memiliki ilmu dan pengetahuan yang banyak semisal pekerja bangunan, tenaga keamanan dan sebagainya.
"Guru berada di level kedua yang disebut profesional yang mesti dilakukan dengan baik bukan sambilan atau asal-asalan tanpa mau meningkatkan pengetahuan dan keterampilan," tandas Mawardi.
Kesungguhan guru dalam menjalani profesinya diharapkan Mawardi akan mempermudah upaya guru madrasah dalam membentuk dan menumbuhkan karakter peserta didik sejak dini baik karakter empati, bertanggung jawab, kesetaraan dan menghargai sebuah proses menuju keberhasilan di masa depannya.
Bukan bermaksud membandingkan, Kakankemenag menyebutkan keberhasilan negara Jepang di bidang sains dan teknologi tidak terlepas dari sistem pendidikan anak usia dini [level SD/MI] di mana mereka tidak begitu mewajibkan murid untuk belajar berkompetisi satu dengan yang lain.
"Sekolah di Jepang tidak mengenal ujian dan tidak mengenal stres. Mereka hanya bermain tanpa wajib menghafal pelajaran sebab di usia segitu mereka mulai dibentuk karakter, bukan ditekan," kata Mawardi.