Pulau Pramuka, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Seribu kembali menggelar kegiatan Kultum Rutin yang berlangsung di Kantor Perwakilan Kemenag Kepulauan Seribu, pada Rabu (11/2/2026).
Kegiatan yang dihadiri Kepala Kantor Kemenag Kepulauan Seribu, para pejabat fungsional tertentu, serta para pelaksana di lingkungan Kemenag Kepulauan Seribu ini menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Kepulauan Seribu Selatan, Nurcholis, sebagai penceramah dengan tema “Jadikan Puasa sebagai Momentum Pembentukan Jiwa Sosial dan Kepedulian.”
Dalam tausiyahnya, Nurcholis, menerangkan bahwa dalam rangka mengahdapi bulan puasa ramadhan, dirinya mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan bulan puasa sebagai sarana memperbaiki diri dan memperkuat hubungan sosial dengan sesama.
“Kita semua memiliki dosa dan kekhilafan. Maka jangan tunda untuk bergegas meraih ridha Allah. Puasa adalah kesempatan emas untuk kembali, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas takwa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang muttaqin, yakni mereka yang berkarakter kuat dan memiliki kepedulian sosial tinggi.
“Siapa itu muttaqin? Mereka adalah orang-orang yang sudah berkarakter dalam kebaikan. Dalam kondisi sulit tetap dermawan, apalagi saat lapang semakin ringan tangan membantu sesama,” jelas Nurcholis.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengendalian diri selama bulan Ramadan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga mengekang emosi dan hawa nafsu.
“Puasa itu latihan menahan diri. Walaupun kita sedang emosi atau gondok, tetaplah sabar, tetap shaleh, dan tahan nafsu. Inilah makna kajiminal ghaiz, menahan amarah karena Allah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat puasa harus terinspirasi dari sifat Maha Pengampun Allah SWT.
“Orang yang berpuasa seharusnya terinspirasi dari sifat pemaaf Allah. Jika Allah Maha Mengampuni, maka kita pun harus belajar mudah memaafkan dan berlapang dada,” ujarnya.
Menurutnya, bulan puasa menjadi madrasah kehidupan untuk membentuk jiwa sosial yang lembut, penuh empati, dan ringan memaafkan.
“Jadikan Ramadan sebagai pelajaran agar hati kita lebih luas, tidak mudah tersinggung, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain,” tambahnya.
Di akhir tausiyah, Nurcholis menegaskan bahwa Allah SWT sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang mau melakukan perbaikan atas kesalahan yang pernah diperbuat.
“Allah sangat mencintai orang-orang yang mau memperbaiki diri. Jangan takut dengan masa lalu, tapi bangun masa depan dengan taubat dan perubahan yang nyata,” pungkasnya.
Kegiatan kultum berlangsung khidmat dan penuh refleksi. Diharapkan melalui tausiyah ini, seluruh jajaran Kemenag Kepulauan Seribu semakin termotivasi menjadikan puasa sebagai momentum pembentukan jiwa sosial, peningkatan kepedulian, serta penguatan karakter dalam kehidupan sehari-hari.