Berita

Inovasi Siswa MAN 13 Jakarta, Permen Herbal Untuk Kurangi Insomnia

Sabtu, 17 Januari 2026
Dibaca 56 kali
blog

Bogor (Humas Kemenag DKI) — Siapa sangka, solusi untuk masalah susah tidur yang kerap dialami remaja bisa lahir dari tangan siswa madrasah. Sekelompok siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 13 Jakarta berhasil menciptakan inovasi permen herbal bernama Cimanis, yang dirancang untuk membantu meredakan insomnia ringan dan meningkatkan kualitas tidur. Inovasi ini dipresentasikan dalam ajang Global Youth Internasional Indonesian Fair (GYIIF) pada 16 Januari 2026.

 

Salah satu anggota tim riset menjelaskan bahwa kelompok mereka terdiri dari siswa kelas X dengan rentang usia 15–16 tahun. Ide pembuatan permen Cimanis berangkat dari pengamatan sederhana terhadap lingkungan sekitar.

 

“Awalnya kami melihat tanaman catnip atau ketnip tumbuh liar di sekitar rumah, tapi penggunaannya selama ini hanya dikenal untuk kucing. Di sisi lain, kami melihat banyak remaja yang sering begadang hingga lewat tengah malam, sehingga berdampak pada fokus belajar, keterlambatan sekolah, dan kesehatan mental,” ujarnya.

 

Bersama rekan satu tim, mereka kemudian mengembangkan riset selama lima bulan, sejak September 2025 hingga Januari 2026. Produk Cimanis diracik dari tiga bahan utama, yakni ketnip (catnip), kamomil, dan kayu manis, yang dikombinasikan dengan glukosa sirup dan sukrosa sebagai matriks permen.

 

“Kami memilih ketnip karena mengandung nepetalactone yang memberikan efek sedatif ringan pada tubuh. Kamomil mengandung apigenin yang bekerja pada reseptor gamma-aminobutyric acid (GABA) di otak sehingga membantu relaksasi, sementara kayu manis memberi rasa khas sekaligus aroma menenangkan,” jelas salah satu anggota tim.

 

Proses pengembangan produk tidak berlangsung instan. Tim melakukan trial and error sebanyak 14 kali untuk mendapatkan komposisi, dosis, dan suhu pemasakan yang tepat. Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah menjaga takaran bahan agar tetap aman serta menghasilkan tekstur permen yang stabil dan tahan simpan.

 

“Beberapa kali kami gagal karena suhu tidak sesuai atau takaran bahan kurang tepat. Tapi kami terus mencoba dan melakukan riset ulang sampai menemukan formulasi yang aman,” ungkapnya.

 

Untuk menguji produk, tim melakukan uji organoleptik dengan melibatkan 10 siswa dan 2 guru MAN 13 Jakarta yang mengalami kesulitan tidur. Uji coba dilakukan selama 1–2 minggu dengan penilaian pada rasa, aroma, dan efek setelah konsumsi.

 

“Hasilnya menunjukkan permen bekerja rata-rata 1–3 jam setelah dikonsumsi, karena kami menggunakan dosis yang aman. Responden menyampaikan feedback positif, baik dari segi rasa maupun efek relaksasi yang dirasakan,” tambahnya.

 

Guru pembimbing riset MAN 13 Jakarta, Syifa Dewi Mutiah, menyampaikan bahwa inovasi Cimanis lahir dari proses akademik yang matang. Menurutnya, siswa tidak langsung menentukan ide, tetapi terlebih dahulu mempelajari berbagai jurnal dan penelitian terdahulu sebagai landasan riset.

 

“Mereka membaca banyak referensi melalui jurnal ilmiah, lalu menghubungkannya dengan fenomena yang ada di sekitar. Ini yang membuat inovasi siswa MAN 13 semakin kreatif dan kontekstual,” jelas Syifa.

 

Ia menambahkan bahwa tantangan utama dalam pembimbingan riset adalah keterbatasan referensi berbayar dan hambatan bahasa, terutama saat mengikuti kompetisi internasional. Meski demikian, fasilitas laboratorium di sekolah dinilai cukup memadai untuk mendukung riset siswa.

 

“Keunggulan Cimanis dibanding penelitian sebelumnya adalah bentuknya yang praktis, seperti permen lollipop, sehingga mudah dikonsumsi dan lebih menarik bagi remaja. Kandungan gulanya juga sudah diukur dengan cermat,” ujarnya.

 

Saat ini, tim belum memproduksi Cimanis secara massal karena masih memerlukan uji laboratorium lanjutan, konsultasi dengan tenaga kesehatan, serta proses sertifikasi halal dan BPOM. Jika nantinya diproduksi, harga jual diperkirakan berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp50.000.

 

Para siswa juga menyampaikan pesan kepada masyarakat dan pelajar lain. Bagi penderita insomnia, mereka mengimbau untuk tetap menerapkan pola hidup sehat seperti menghindari kafein dan penggunaan gawai sebelum tidur, serta berkonsultasi ke dokter jika gangguan tidur berlanjut. Sementara bagi siswa madrasah lain, mereka mendorong agar tidak ragu menuangkan ide melalui riset.

 

“Kami berharap Cimanis ke depan bisa membantu penderita insomnia ringan dan terus dikembangkan menjadi produk yang lebih efektif dan aman,” pungkas tim riset dengan optimistis.

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor