Jakarta [Humas Kankemenag Jakarta Utara] --- Masih dalam rangkaian kegiatan menuju puncak Hari Raya Waisak 2570 B.E 2026, Penyelenggara Buddha Kankemenag Kota Jakarta Utara Mugiyanto mengikuti kegiatan Waisak Mahayana Yu Fo/Pemandian Pratima Siddharta. Ahad, [24/5/2026).
Mugiyanto hadir bersama Penyuluh Agama Buddha Wahyono di Cetiya Welas Asih Buddha (Che Pei Tai Nian Cing Nian Fo), Pejagalan, Penjaringan Jakarta Utara. Yifo atau Yu Fo adalah upacara memandikan rupang Buddha kecil, yang merupakan prosesi dan rangkaian ibadah utama dalam perayaan Hari Raya Waisak.
"Kegiatan ini digelar sebagai bentuk penghormatan dan peringatan atas kelahiran Pangeran Siddharta Gautama menjelang Hari Raya Tri Suci Waisak Nasional 2570 B.E," terang Mugiyanto.
Sambung Mugiyanto, melalui ritual pemandian Pratima Bayi Siddharta, umat Buddha diajak untuk menumbuhkan kebijaksanaan, cinta kasih, serta semangat memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari.
"Selain sebagai tradisi keagamaan, kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan umat menyambut Waisak dengan penuh kedamaian, kebajikan, dan sukacita Dharma," ujarnya.
Kata Mugiyanto, ritual ini bukan sekadar memandikan patung, melainkan simbolis untuk membersihkan batin. Air bunga yang dicurahkan mewakili tekad umat untuk membasuh pikiran, ucapan, dan perbuatan dari noda batin seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan agar senantiasa mawas diri.
Di kesempatan yang sama, Wahyono mengatakan bahwa sejatinya pelaksanaan Yu Fo dapat berbeda-beda tergantung tradisi, organisasi dan kebijakan masing-masing Vihara atau Majelis. Kata dia, ada umat yang melaksanakan seminggu sebelum Waisak, beberapa hari sebelumnya, bahkan bertepatan dengan hari Waisak.
"Makna utamanya adalah membersihkan bathin dari keserakahan, kebencian dan kebodohan, menumbuhkan welas asih, serta menjadi simbol penghormatan atas kelahiran Siddharta Gautama yang kelak mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha," terang Penyuluh.
Wahyono berkeyakinan, Waisak mampu membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi seluruh makhluk hingga bisa menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
"Terutama dalam membangun sikap toleransi, cinta kasih, kepedulian sosial, dan pengendalian diri demi terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.