Berita

Maknai Nuzulul Qur’an, Penyuluh Agama Ajak Siswa SMK Negeri 61 Jakarta Bangun Tradisi Ilmu dan Literasi

Jumat, 6 Maret 2026
Dibaca 646 kali
blog

Pulau Tidung, Jakarta (Humas Kepulauan Seribu) -- Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan menghadiri peringatan Malam Nuzulul Qur’an 1447 H yang berlangsung khidmat di lingkungan SMK Negeri 61 Jakarta di Pulau Tidung, pada Jumat malam (6/3/2026).


Adapun penyuluh yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni Hilmani sebagai imam salat Tarawih dan Muhammad Fikri Adrian sebagai penceramah. Kehadiran para penyuluh memberikan nuansa keilmuan dan spiritual yang mendalam bagi para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut.


Dalam ceramahnya, Muhammad Fikri Adrian menjelaskan bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an merupakan momentum penting dalam sejarah peradaban Islam. Turunnya wahyu pertama melalui QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 menandai dimulainya transformasi peradaban yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kehidupan umat.


Ia menuturkan bahwa kata iqra’ tidak hanya bermakna membaca teks, tetapi juga membaca realitas kehidupan, alam, serta perkembangan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memiliki tradisi literasi, pemikiran kritis, serta semangat belajar sepanjang hayat. 


“Perintah Iqra’ adalah pesan besar bagi umat Islam agar membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan. Membaca bukan hanya teks, tetapi juga membaca kehidupan agar kita mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat,” ujar Muhammad Fikri Adrian dalam tausiahnya.


Ia juga menekankan bahwa aktivitas intelektual dalam Islam harus dilandasi kesadaran spiritual, sebagaimana terkandung dalam frasa “bismi rabbik”. Menurutnya, ilmu tidak boleh terlepas dari nilai ketuhanan dan harus diarahkan untuk kemaslahatan manusia.


Selain itu, ayat “khalaqal insan min ‘alaq” mengingatkan manusia tentang asal-usulnya yang sederhana sehingga ilmu yang dimiliki hendaknya melahirkan sikap rendah hati, bukan kesombongan.


“Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat pula kesadarannya akan keterbatasan dirinya di hadapan Allah SWT. Di situlah ilmu menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju kebaikan,” lanjutnya.


Muhammad Fikri Adrian juga menggarisbawahi pentingnya budaya literasi dan tradisi menulis dalam Islam. Penyebutan kata qalam dalam wahyu pertama menjadi simbol pentingnya mendokumentasikan ilmu sebagai fondasi berkembangnya peradaban.


“Kebangkitan umat Islam hari ini harus dimulai dari penguatan tradisi ilmu, membaca, dan menulis. Dengan ilmu yang berlandaskan nilai ketuhanan, kita dapat menghadirkan kemajuan yang membawa manfaat bagi umat,” tambahnya.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Kepala Sekolah I Dawamun, Wakil Kepala Sekolah II Fifin, serta Kepala Asrama Sunny.


Perwakilan pihak sekolah, Dawamun, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para Penyuluh Agama Islam yang telah memberikan pembinaan spiritual kepada para siswa.


“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Penyuluh Agama Islam dari KUA Kepulauan Seribu Selatan. Tausiah yang disampaikan memberikan pemahaman kepada para siswa bahwa Al-Qur’an adalah sumber ilmu sekaligus pedoman hidup yang harus terus dipelajari dan diamalkan,” ujar Dawamun.


Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa semakin termotivasi untuk memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, menumbuhkan budaya literasi, serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

  • Tags:  

Terkait

Menu Aksesibilitas

Mode Suara

Ukuran Teks

Monokrom

Tandai Tautan

Tebalkan Huruf

Perbesar Kursor