Jakarta (Humas Kanwil Kemenag DKI) --- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, menyampaikan pentingnya transformasi layanan di Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai garda terdepan pelayanan publik Kementerian Agama. Hal ini disampaikan saat meninjau program ASRI di KUA Kembangan, Jakarta Barat.
Menurut Adib, revitalisasi KUA yang tengah digencarkan Kementerian Agama harus dimaknai tidak hanya sebagai pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga perubahan pola pikir (mindset) seluruh aparatur dalam melayani masyarakat.
“Persoalan revitalisasi itu bukan hanya persoalan sarana-prasarana. Yang lebih penting adalah mindset melayani, kultur pelayanan kita, dan cara kita memberikan layanan kepada masyarakat,” tegas Adib. Rabu (3/6)
Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran revitalisasi KUA yang cukup besar. Karena itu, seluruh jajaran KUA di Jakarta diminta optimistis bahwa kualitas layanan ke depan akan semakin baik.
“Kita harus optimistis. Insya Allah layanan yang ada di KUA akan semakin baik. Program revitalisasi terus berjalan dan harus kita sambut dengan kesiapan seluruh SDM yang ada,” ujarnya.
Selain peningkatan layanan, Adib juga mendorong penataan lingkungan KUA agar lebih nyaman, bersih, dan representatif. Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah pembangunan taman pengantin di setiap wilayah sebagai bagian dari penguatan citra dan pelayanan KUA.
“KUA adalah rumah kita. Kita bekerja di sini dan mengabdi dari sini. Karena itu KUA harus rapi, asri, dan nyaman. Masyarakat yang datang juga harus merasakan kenyamanan saat mendapatkan layanan,” katanya.
Adib menjelaskan bahwa Kementerian Agama juga sedang menyiapkan konsep KUA percontohan atau KUA unggulan yang nantinya akan menjadi model pelayanan modern di Jakarta.
“Kami sedang mencari satu KUA yang memiliki lahan luas dan strategis untuk dijadikan percontohan KUA Excellent. Ini akan menjadi model pengembangan KUA ke depan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Adib mengingatkan seluruh aparatur KUA untuk mengubah paradigma pelayanan. Menurutnya, aparatur KUA harus menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat, bukan pihak yang dilayani.
“Mindset kita harus berubah. Jangan lagi bertanya, ‘Mau apa Bapak ke sini?’ tetapi ubah menjadi ‘Apa yang bisa kami bantu?’. Perbedaannya sangat besar dan akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” pesannya.
Adib juga mengajak seluruh ASN Kementerian Agama DKI Jakarta untuk terus mengamalkan nilai-nilai “Istiqomah Berakhlak” yang menjadi budaya kerja Kementerian Agama.
“Pak Menteri sudah menyampaikan tentang Istiqomah, yaitu Ikhlas, Tawadhu, Ihsan, Qanaah, dan Mahabbah yang diwujudkan dalam perilaku berakhlak. Ini harus menjadi budaya kerja kita dalam memberikan pelayanan,” katanya.
Menurut Adib, organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu menyelesaikan berbagai tantangan yang sulit. Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran untuk berani memiliki target dan visi besar dalam pengembangan layanan keagamaan di Jakarta.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengatasi hal-hal yang sulit. Begitu juga organisasi. Jika kita mampu menyelesaikan tantangan-tantangan besar, maka kita akan menjadi organisasi yang kuat dan maju,” ujarnya.
Diakhir sambutannya, Adib meminta para Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota untuk terus melakukan pembinaan dan pemantauan langsung ke seluruh KUA.
“Pastikan KUA-KUA kita terus berubah mindset pelayanannya. Lakukan kunjungan secara berkala, lihat langsung kondisi lapangan, identifikasi kekurangan, dan lakukan perbaikan. Karena saat ini KUA menjadi ujung tombak pelayanan Kementerian Agama kepada masyarakat,” pungkasnya.