TUESDAY, 18 DEC 2018

Menjadi Guru Madrasah Harapan Masyarakat


Admin 27 Nov 2017, 10:29


Penulis : Drs.Saifudin Zuhri,M.PdI (Guru Pada MTs N 16 Jakarta)

 

Guru, tidak sekedar sebagai nama sebuah profesi seseorang yang mengajarkan sesuatu pada muridnya. Ia tak  hanya sekedar sebutan profesi sebagaimana direktur, komisaris atau satpam yang memiliki tanggung jawab pada profesi dan kinerja saja.

Sekalipun sama-sama mengelola manusia, tapi guru memiliki tugas yang lebih penting dari sekedar profesional dalam mengajar, menilai,mengevaluasi, melakukan penelitian serta bimbingan sebagaimana amanah pasal 20 UU Guru dan Dosen serta PP 74 tahun 2008.

Lebih lagi, bila guru yang dimaksud adalah guru madrasah. Masyarakat memiliki persepsi khusus bila mendengar nama profesi ‘Guru Madrasah’. Embel-embel madrasah, ternyata memiliki dampak lanjutan. Peran sebagai pelayan keagaaman serta tingkat kealiman yang lebih tinggi diharapkan melekat pada diri seorang yang memiliki label ‘Guru Madrasah’.

Berbeda dengan guru profesional lainnya, masyarakat biasanya memiliki harapan lebih terhadap guru madrasah.  Masyarakat berharap selain guru madrasah mampu menjadi teladan dan panutan, guru madrasah juga dapat menjadi sumber bertanya terkait hal-hal keagamaan. Apapun mata pelajaran yang di ampu (mata pelajaran di madrasah tidak semuanya mata pelajaran agama), guru madrasah dianggap mengerti materi-materi keagamaan.

Untuk itu, penulis kira tepat jika guru madrasah disebut guru profesional plus. Untuk mengetahui seperti apa guru madrasah yang diharapkan, kiranya perlu kita ketahui bersama jenis kategori profesional plus  sebagai berikut :

Pertama, guru profesional mudarris.  Mudarris berasal dari bahasa arab yang berarti mengajar ataupun pengajaran. Guru ini memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbaharui pengetahuan, keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya,  serta melatih ketrampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.

 

Pendidik ini bertanggung jawab menyampaikan ilmu yang ada padanya sesuai profesi standar operasional profesi guru.  Mereka menfokuskan diri pada pembinaan keilmuan dan olah pikir pembinaan keteladanan sebatas profesinya saja. Kualitas pendidik ini merupakan kebanyakan dari seorang pendidik masa kini.

Indikator profesional guru madrasah yang mudaris cukup mudah hanya ditempuh melalui Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) dengan pembuktian sertifikat. Jika guru mudaris ini tidak berkembang aspek pembinaan, keteladanan dan ruhiyahnya maka memungkinkan munculnya siswa madrasah cerdas dengan nilai cumlaude namun lemah dalam penghormatan,penghayatan dan  sikap takdzim terhadap  guru.

 

Kedua, guru profesional murobbi. Guru murobbi memiliki keihlasan yang tinggi dalam menyayangi siswa, gemar menasehati sera membimbing dengan keteladanan. Guru murobbi selalu mengucapkan salam dan mengawali pembelajaran dengan berdoa untuk menyambungkan rohani, peserta didik disayangi sepenuh hati.

 

Guru madrasah seharusnya berusaha menempatkan dirinya sebagai murobbi ini karena ruh peserta didik tidak akan tersambung dengan baik tanpa ada kedekatan hati dan kasih sayang antara guru dan siswa. Guru ini lebih suka melindungi dan memelihara kasih sayang, bersikap positif terhadap kekurangan siswa dan sekelilingnya sehingga tidak suka menghujat maupun mencela.

 

Guru ini berusaha menghadirkan siswa dalam sikap dan doanya. Gejala positif dari pembiasaan guru murobbi ini, siswa mulai terbuka mencurahkan perasaan dan memiliki ketaatan yang tinggi. Kelebihan guru murobbi ini  mendidik dengan ketulusan dan keihlasan sikap tinggi, senang berbaur dalam kehidupan siswa mengawal sikap dan perilakus dengan  tulus  dan suka hati memperhatikan perkembangan  potensi siswa.

 

Guru yang tergolong dalam guru murrobi pun berusaha berperan aktif dalam membinapola pikir siswa yang kurang dewasa  dalam pola pikir, wawasan, dan tindakannya. Guru murobbi lebih senang pada perbaikan sikap dan tingkah laku anak didik dari yang tidak baik menjadi yang lebih baik, berusaha mendekatkan rasa kasih sayang dalam mengasuh peserta didik, sebagaimana orang tua mengasuh anak kandungnya.

Sebagaimana dalam dunia pesantren  berfungsinya aspek murobbi dan interaksi sosialnya dengn para santri. Gelar Murobbi  madrasah muncul dari pengakuan dan rasa orang sekelilingnya, mereka merasa terlindungi,kehadirannya dinanti oleh peserta didik.

 

Ketiga, guru profesional mualim. Kata mu’allim memiliki arti pengajar. Istilah mu’allim sendiri merupakan al-ism al-fa’il dari kata ‘alama yang artinya orang yang mengajar. Rasyid Ridha, mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu. Firman Allah SWT: Artinya: “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah menutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan kami mensucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu apa yang telah belum kamu ketahui.” (Q.S. al_Baqarah : 251).

 

Guru madrasah yang Mualim harus mampu untuk merekonstruksi bangunan ilmu secara sistematis dalam pemikiran peserta didik dalam bentuk ide, wawasan, kecakapan, dan sebagainya, yang ada kaitannya dengan hakekat sesuatu. Sikap tawadluk dan istiqomah terpancar dalam perkataan dan perilaku. Kompetensinya yang unggul mampu merefleksikan dan memberikan ide dan motivasi kepada peserta didik.

 

Guru  yang tergolong Mualim ini  mampu merangkai kata dan tindakan yang dipercayai dan dikagumi oleh peserta didiknya, santun dalam sikap, hormat dalam perilaku. Sehingga yang terpancar adalah kewibawaan alami. Kualitas guru ini pada umumnya berjumlah sedikit karena gelar guru profesi ini bukan ditentukan oleh Diklat maupun PLPG. Namun didapat dari perasaan dan penghargaan perilaku dari orang-orang yang ada disekelilingnya tidak terbatas pada guru agama saja, namun bisa muncul dari guru mata pelajaran umum. Ketaatan dan kemuliaan guru mualim ini yang dibutuhkan dunia pendidikan madrasah untuk mewujudkan madrasah yang berkarakter. Setinggi apapun program dan pembiasaan karakter jika keteladaan para mualim tidak diakui oleh warga madrasah yang muncul adalah pemaksaan karakter mulia yang muncul atau terekam dalam sanubari peserta didik secara temporer.

Selamat Hari Guru Nasional yang ke 72, semoga guru madrasah semakin profesioanal yang muallim pembimbing karakter pengawal intelektual dan pelayan pendidikan yang profesional.

Referensi :

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

https://zulkiflihasan.wordpress.com/2013/05/14/guru-sebagai-murabbi-mudaris-mualim-muaddib-dan-mursyid-selamat-hari-guru/

http://rajaaidilangkat.blogspot.co.id/2014/06/murabbi-muallim-muaddib-mudarris-muzakki.html

 

 

 

 


Dibaca: 42 kali