Minggu, 2 April 2017, 11:08

PAPERLESS DALAM PENILAIAN HASIL BELAJAR

Istilah paperless pada mulanya muncul dalam dunia perkantoran yang dikenal dengan istilah paperless administration. Istilah paperless administration dapat didefiniskan sebagai kebijakan pengurangan kertas dalam kegiatan administrasi. Paperless merupakan sebuah sistem yang diciptakan untuk menglelola sistem administrasi ketatausahaan. Sistem paperless ini merupakan suatu sistem ketatausahaan tanpa penggunaan kertas dan sistem ini sudah dikembangkan oleh bagian sistem informasi.

Di kantor yang benar-benar paperless, penyimpanan dokumen lebih dipusatkan pada komputer daripada di filing cabinets. Komunikasi tertulis tidak diedarkan lagi di media cetak tetapi di media elektronik seperti e-mail.

Dalam perkembangannya, kampanye paperless (pengurangan penggunaan kertas) semakin digalakkan beriringan dengan kampanye go green, baik oleh pemerintah maupun non pemerintah. Banyak pihak yang menyadari bahwa Bumi semakin tua dan bebannya semakin berat. Harus ada langkah-langkah nyata bagaimana mensosialisasikan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Hal ini bukan saja untuk menyelamatkan Bumi, tetapi juga untuk penghematan biaya yang harus dikeluarkan jika masih banyak menggunakan kertas.

Dengan perkembangan teknologi, paperless bisa dilakukan di semua bidang, termasuk di bidang pendidikan. Dengan tersedianya akses internet yang mudah dan murah, penggunaan kertas yang berbahan dasar tumbuhan bisa jauh dikurangi. Dalam dunia pendidikan, misalnya, pengurangan penggunaan kertas untuk pencetakan buku dan bahan ajar sudah banyak dilakukan. Kita mengenal adanya e-book dan lain sebagainya. Lebih dari itu, masih banyak jutaan buku yang bisa diakses secara online. Bayangkan, berapa banyak kertas yang digunakan jika buku-buku tersebut dicetak? Berapa biaya yang diperlukan untuk semua itu? Sungguh luar biasa hematnya dengan adanya paperless ini.

Dewasa ini, paperless juga sudah merambah ke bidang assesment atau penilaian. Tes seleksi menjadi PNS misalnya, sudah komputerisasi. Mulai dari pendaftaran hingga tes seleksi sampai pengumuman hasilnya, semuanya tanpa menggunakan kertas sedikit pun.

Pun demikian di dunia pendidikan. Penilaian hasil belajar sudah mulai bergeser dari berbasis kertas (paper based test) menjadi berbasis komputer (computer based test). Yang paling menyita perhatian, tentunya pelaksanaan Ujian Nasional untuk peserta didik SMP/MTs, SMA/MA, SMK. Jika tahun kemarin hanya sebagian kecil yang melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), maka pada tahun ini penyelenggara UNBK sudah hampir semua, terutama di kota-kota besar. Bahkan di Provinsi DKI Jakarta, di tahun 2017 ini semua sekolah/madrasah melaksanakan UNBK.

Dalam skala lebih kecil lagi, di tingkat satuan pendidikan, penilaian hasil belajar berbasis komputer (baca: paperless) sudah mulai populer diterapkan dalam ulangan harian (UH) atau penilaian tengah semester (PTS) dan penilaian akhir semester (PAS). Bahkan tidak sedikit yang menerapkannya dalam dalam ujian sekolah/madrasah (US/M).

Hal ini, hemat penulis, perlu didukung dan terus dikembangkan. Selain untuk membiasakan peserta didik dengan ujian berbasis komputer, tentunya dari sisi biaya jelas jauh lebih murah. Bagi guru sendiri, hal ini mendorongnya untuk meningkatkan kemampuannya di bidang IT. Sementara bagi panitia pelaksana penilaian atau ujian, jelas bisa menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Karena bila masih menggunakan PBT (paper based test), biasanya panitia disibukkan dengan kegiatan penggandaan soal, packing soal dan pendistribusian soal, sampai dengan kegiatan mengoreksi LJK dengan mesin scanner.

Dengan demikian, saya kira paperless dalam penilaian hasil belajar saat ini bukan lagi kebutuhan, melainkan sebuah keharusan. Teknologi informasi dan komunikasi sudah semakin berkembang. Laptop, Gajed atau Telepom Pintar sudah hampir dimiliki oleh setiap orang, terlebih para pelajar tingkat SMA/MA. Maka, hal itu harus benar-benar dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal penilaian hasil belajar. Selain low cost, hasil penilaiannya juga bisa cepat diketahui.

Aceng Solihin, MA

Guru Bahasa Arab MAN 22 Jakarta

Ketua MGMP Bahasa Arab Madrasah Aliyah DKI Jakarta dan Tim Pengembang Kurikulum Madrasah Aliyah Provinsi DKI Jakarta