Sabtu, 4 Februari 2017, 12:56

Ari, Alumni MIN 9 Yang Tak Lupa Jasa Sang Guru Oleh: Saripah, guru MIN 9 Jakarta Selatan

Seperti biasanya saat pagi setelah bel berbunyi, terdengar lantunan bersama-sama semua siswa membaca hapalan-hapalan Al-quran di hari sebelumnya. Semua saling bersahutan dengan suratnya masing-masing. Tidak ada yang merasa terganggu ataupun merasa bingung karena perbedaan surat. Mungkin karena sudah biasa sehingga nyaman saja.

Amiroel Fachri, salah satu dari mereka. Postur tubuhnya yang kecil dengan rambut hitamnya yang ikal selalu semangat menyuarakan apa yang sudah dihapal. Dalam keseharian pun dia termasuk siswa yang disenangi banyak temannya karena jarang sekali marah, cenderung pengalah. Dia termasuk anak yang cerdas. Selalu mendapat peringkat tiga besar dalam kelasnya.

Ari (begitu panggilan akrabnya) adalah salah satu siswa madrasah. Tepatnya di madrasah negeri yang terkenal di Jakarta. Orang tuanya, dengan sepeda motor sederhananya setia setiap pagi mengantarkannya. Pernah suatu ketika dia berujar.

Ustadzah (panggilan untuk gurunya), saya tidak akan pernah malu kepada siapapun. Biarin sebagian orang tua setengah mencibir mengatakan kepada saya bahwa saya memaksakan diri menyekolahkan anak saya sekolah di sini. Apapun akan saya usahakan demi anak saya.

Setelah lulus dari MIN dia lanjut ke SMPN di Jakarta Selatan, kemudian melanjutkan ke SMAN masih di kota Jakarta. Dalam rentang waktu antara SMP dan SMA orang tuanya beberapa kali menelepon guru Alqurannya untuk diingatkan agar Ari tetap murajaah hapalan-hapalannya waktu di MIN.

Kebiasaan yang lainnya adalah hampir di setiap lebaran, orang tuanya selalu silaturahim ke rumah. Minta didoakan anaknya. Terakhir berkunjung saat Ari sudah lulus SMA dan diterima di UI dan STAN. Kunjungannya yang terakhir itu sekeluarga, termasuk Ari. Biasanya hanya bapak, ibu, dan salah satu adiknya saja. Saat itulah mereka mengatakan memilih STAN.

Bulan Desember kemarin, Ari bercerita main ke MIN bersama salah seorang kawannya, Hikam. Setelah lulus dari STAN bulan Oktober lalu, dia mendapat kontrak kerja di bea cukai dan ditempatkan di Dumai. Dia mengutarakan tujuan silaturahimnya adalah ingin berpamitan kepada ustad dan ustadzahnya karena akan ke Dumai. Terhenyak dan terharu mendengarnya. Setelah sekian lama lulus dari MIN, saat mendapat kerja masih ingat sama gurunya dan tetap pamit minta didoakan.

Semalam Ari menghubungi salah seorang ustadzahnya dan bercerita bahwa dia baru saja menerima gaji pertamanya. Dia mengutarakan keinginannya bahwa gaji pertamanya itu, dia ingin membelikan makanan ala kadarnya untuk ustad dan ustadzah di MIN. Semoga berkah dan mohon didoakan katanya.

Inilah semangkuk siomay kiriman dari muridku yang sekarang bertugas di Dumai.

Berita Lainnya
Sabtu, 4 Februari 2017, 12:57

Tips Menyikapi “ Kenakalan” Anak

Rabu, 1 Februari 2017, 17:13

Belajar Al-Quran yang Diajarkan Rasulullah SAW

Rabu, 1 Februari 2017, 00:07

Menulis Bagai Atmosfer Yang Membahana

Kamis, 1 Desember 2016, 05:32

JANGAN ENGKAU ROBEK MERAH PUTIHKU Oleh; Aris Adi Leksono (Guru MTsN 34 Jakarta)

Kamis, 24 November 2016, 19:13

REFLEKSI DI HARI GURU NASIONAL Oleh Imam Bukhori