Rabu, 1 Februari 2017, 00:07

Menulis Bagai Atmosfer Yang Membahana

Diawali dengan tuntutan menulis berita, karena tugas sebagai wakil bidang Humas salah satunya adalah menulis berita kegiatan yang dilaksanakan di sekolah. dengan prinsip 5W + 1 H, kutulis berita jauh dari standar, tak mengapa karena ketika muncul di Web sudah ada tim editor dari inmas Kanwil kemenag yang selalu sabar membimbing.

Awal mulanya sangat sulit sekali, baru satu paragraph sudah buntu, apalagi ketika aku menulis berita pertama, ada komentar dari tim editor "ini berita atau laporan ?, jawabku, " salah ya pak ?, untungnya ada solusi dari tim editor, dan judulnya pun diubah sehingga membuat orang lain penasaran untuk membacanya.

Termasuk tulisan ini, inilah awal pertamaku menulis opini di web Kanwil, dengan segudang pertanyaan, apa yang akan kutulis, apa yang menginspirasiku, tema apa yang akan aku ambil, dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benakku.

Dengan tertatih-tatih aku memulai tulisan ini, cukup memakan waktu yang lama, sudah tiga paragraph hilang mood, kesal, tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, sampai kehilangan arah mau dilanjutkan kemana tulisan ini.

Aku ingat ketika suamiku didepan laptop sambil merokok, kopi hitam selalu menemani, aku berpikir "owh ternyata itu kuncinya", akhirnya ku cari folder musik yang ada di laptop, lalu aku melanjutkan menulis sambil mendengarkan musik, tak terasa tulisanku sudah satu halaman.

Dari beberapa paragraph terkadang aku merasa tulisanku tidak nyambung, dengan membuka buku dan membacanya, serta kulakukan browsing juga, kutemukan jalan untuk melanjutkan menulis.

Semangat dan motivasi dari teman-teman peserta pelatihan menulis di Kemendikbud yang diselenggarakan tanggal 21-22 Januari 2017 oleh Media Guru dan Ikatan Guru Indonesia begitu menggelora, peserta dari berbagai daerah dengan prestasi yang mereka miliki, juara simposium 2016, penulis buku, penulis cerita/dongeng anak, merupakan motivasi yang luar biasa, walau terkadang semangatku naik turun, tapi ketika melihat tulisan teman dan karyanya, aku terasa panas, bagai terbakar api, sehingga tekadku untuk menyelesaikan tulisan ini semakin kuat.

"Katakan pada dunia bahwa guru matematikapun bisa menulis, jangan pernah berhenti menulis, karena menulis merupakan proses yang panjang. Jangan menunggu datangnya inspirasi, tapi inspirasi itu harus diciptakan, untuk itu menulislah agar inspirasi tercipta.

Ungkapan rasa terlukis dalam goresan pena, tulisanku berbicara layaknya ungkapan hati, kegigihan dan semangat teman-teman bagaikan bara api, yang membuat hati ini terbakar untuk berpacu dalam menulis.

Seketika menulis membahana menggetarkan atmosfer ruang kemendikbud, ucapan terima kasih kepada narasumber yang begitu hebat dan menginspirasi, terima kasih Tuhan, Kau telah memberiku kesempatan dalam mengikuti pelatihan menulis untuk sebuah alasan, baik untuk mulai belajar menulis ataupun untuk mendalami menulis.

Dikeheningan malam, Jakarta 1 Februari 2017

Nur Azijah, Guru Matematika MTsN 1 Jakarta