Jakarta (Humas Kemenag DKI) --- Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan, momentum emas menanti umat Muslim untuk memaksimalkan ibadah dan meraih keutamaan Lailatul Qadar yang lebih bernilai dari seribu bulan. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Adib, menyampaikan pentingnya istikamah dan tidak "kendor" dalam beribadah di penghujung Ramadan.
Lanjutnya, Adib menjelaskan tuntunan langsung dari Rasulullah SAW yang menjadi panduan umat Muslim dalam memaksimalkan ibadah di masa akhir Ramadan.
"Rasulullah SAW ketika memasuki Asyrul Awakhir dari bulan Ramadan, beliau memperbanyak menghidupkan malam-malam Ramadan. Beliau bahkan membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh beribadah," ungkap Adib saat diwawancari PRO3 RRI melalui telepon, Rabu (18/3).
Bukannya Kendor, Justru Harus Lebih Semangat
Adib mengingatkan kecenderungan umat Muslim yang justru menurun semangatnya seiring memasuki minggu kedua dan ketiga Ramadan. Padahal, inilah saat-saat paling berharga untuk beribadah.
"Biasanya malam pertama Ramadan, masjid penuh, barisan terawih sampai tidak muat. Namun di minggu kedua dan ketiga, orang mulai sibuk mempersiapkan mudik, THR, dan lain-lain. Justru di sinilah kita membutuhkan motivasi untuk istikamah hingga akhir," jelasnya.
Lebih lanjut, Adib menambahkan bahwa pencarian Lailatul Qadar harus dilakukan secara aktif di 10 malam terakhir Ramadan, sebagaimana perintah Rasulullah SAW.
"Seribu bulan itu sekitar 83 tahun. Artinya, ibadah kita di malam tersebut nilainya sama, bahkan mengungguli ibadah selama 83 tahun. Ini adalah momentum yang sangat penting bagi kita," tegas Adib.
Iktikaf dan Refleksi Diri Menjadi Kunci
Mengenai peran masjid dalam menghidupkan 10 hari terakhir Ramadan, Adib merekomendasikan ibadah itikaf—berdiam diri di masjid sambil berzikir dan beribadah. Namun, tujuannya bukan sekedar ibadah ritual, melainkan refleksi dan transformasi diri.
"Itikaf bukan untuk tidur-tiduran, tetapi untuk berzikir, beribadah, melakukan tafakur, dan membaca Al-Quran dengan tadabur—merenungkan maknanya. Kita diharapkan mampu melakukan pencerahan terhadap diri sendiri," ujar Adib.
Lebih dalam lagi, Adib menyitir konsep tafakur dari Al-Quran yang dipahami sebagai proses berkelanjutan menuju ketakwaan. Inilah yang diharapkan dari Ramadan menuju masyarakat yang lebih bertakwa kepada Allah Swt.
Sambungnya, Kakanwil menjelaskan beberapa amalan konkret yang dapat dimaksimalkan di penghujung Ramadan, yaitu :
Shalat malam dan menghidupkan malam dengan doa serta zikir
Membaca dan mentadaburi Al-Quran dengan penuh perenungan
Ikhtikaf di masjid untuk refleksi dan transformasi diri
Bersedekah sebagai bentuk pelayanan sosial
Tadarus bersama di komunitas masjid
“Semoga momentum Ramadan ini dapat menjadi titik balik bagi umat Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depan, dengan hati yang bersih dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai spiritual,” pungkasnya.