Berita

Rumah Penyuluhan Kreatif, Bangkitkan Asa Anak-Anak Pengais Sampah

2018-05-23 11:03:07



Jakarta (Inmas) --- Pancaran kebahagiaan tak bisa disembunyikan dari sorot mata Vivi, Anjeli, Aina, dan Trisna saat melangkah keluar  ruang kelas di SDN 01 Anyelir Depok, Jumat (11/05) sore itu.  Senyuman tersungging menghiasi wajah empat gadis remaja belasan tahun tersebut. Keempatnya baru saja menyelesaikan  hari pertama Ujian Kejar Paket A. 

“Alhamdulillah madam... soalnya gampang. Sama dengan yang diajarkan di RPK,” ujar Anjeli sambil menghampiri dan memberikan pelukan hangat kepada perempuan paruh baya yang sejak siang terlihat menunggu cemas di luar kelas tempat berlangsungnya ujian. 

“Alhamdulillah... semoga besok juga mudah ya. Anak-anak Madam di RPK pintar-pintar ya nak ” ujar Dzurrotun Ghola, perempuan paruh baya yang disapa Madam, sambil membalas pelukan anak-anak asuhnya. Tangan perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penyuluh agama fungsional di Kankemenag Kota Jakarta Selatan terlihat sesekali menyeka air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya. 

RPK atau Rumah Penyuluhan Kreatif adalah komunitas yang diinisiasi oleh Dzurrotun Ghola dan Fery Shofiana rekan sesama penyuluh agama fungsional, sejak setahun yang lalu. Bersama dengan Fery, Ghola mulai membina pendidikan agama bagi kaum marginal mulai dari para lansia di panti werdha hingga  warga yang tinggal di lapak-lapak pemulung di sekitar kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. 

Empat gadis remaja yang ada dalam pelukan Ghola adalah anak-anak pemulung yang  tinggal di lapak pemulung Pondok Labu, Cilandak. Salah satu lapak yang menjadi lokasi pembinaan RPK. Keempat gadis remaja tersebut sebelumnya tak menyangka bahwa mereka akan kembali mencicipi bangku sekolah. Kegiatan mengais sampah yang biasa mereka lakukan sehari-hari, seakan memadamkan segenap asa yang seharusnya dimiliki oleh mereka. “Gak nyangka bisa ikut ujian. Nanti jadinya bisa punya ijazah SD,” ujar Vivi. 


Remaja berusia 13 tahun itu menuturkan bahwa dirinya terpaksa putus sekolah, saat kedua orang tuanya memboyong  ia dan dua orang adiknya ke ibukota. “Tadinya waktu di Cilacap udah sampai kelas 6, sampai sini gak bisa nerusin, soalnya gak punya surat-surat DKI,” cerita  Vivi.

Hal senada pun  disampaikan oleh ketiga temannya. Mereka terpaksa putus sekolah saat harus mengikuti orang tuanya merantau ke ibu kota. Ketidaklengkapan dokumen dan keterbatasan penghasilan orang tua menjadikan anak-anak ini putus sekolah dan membantu orang tua mereka menjadi pemulung. Fenomena ini yang ditangkap oleh Ghola dan Fery saat memulai pembinaan di lapak pemulung Pondok Labu. 

“Semula kita kan hanya mengajar ngaji saja. Tapi ternyata di sana melihat anak-anak ini banyak yang putus sekolah. Jadi kita mulai cari-cari informasi tentang sekolah kejar paket,” tutur Ghola. 

Ghola yang saat ini dibantu  lebih dari 30 relawan RPK, mulai membuat program-program yang tak hanya memberikan pengajaran agama, tapi juga membekali anak-anak tersebut pengetahuan umum. “Saya ajak  adek-adek mahasiswa, dan sebagainya yang mau membantu mengajar pelajaran umum untuk anak-anak ini. Nah setelah rutin diberikan pengajaran, kita lihat anak-anak yang kira-kira sudah siap mengikuti ujian paket, kita daftarkan kejar paket,” ujar alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini menuturkan. 

Tahun 2018 ini, RPK mengirim enam orang anak binaanya untuk mengikuti Kejar Paket A. “Tapi yang ikut ujian hari ini cuma empat orang saja, yang dua mengundurkan diri,” kata Arum salah satu relawan RPK yang turut mendampingi. 

Arum pun menuturkan bahwa RPK terpaksa mencari program kejar paket di daerah Depok bagi anak-anak pemulung tersebut. Karena biaya pendaftarannya lebih murah dibandingkan dengan lembaga penyelenggara kejar paket pada umumnya.

“Dulu bisa dibayar dengan botol plastik hasil mereka mulung. Tapi sekarang gak bisa. Jadi biaya Rp.300 ribu/anak, kita mengandalkan donatur yang memberikan sumbangan,” tambahnya. 

Tak hanya masalah pembiayaan, Ghola bercerita bahwa memberikan kesadaran anak-anak pemulung tentang pentingnya meneruskan pendidikan juga menjadi tugas yang tak mudah. Ia dan para relawan RPK terpaksa harus “menangkap” anak-anak ini untuk mau belajar di RPK. 

“Dulu kalau gak dateng, dicariin bu Ghola ke rumah, disamperin,” kata Vivi yang semula merasa malu untuk belajar di RPK. 

Keengganan yang sama pun pernah dirasakan oleh Anjeli. “Dulu awalnya kalau diajak belajar di RPK malu-malu gitu. Kirain tadinya cuma belajar kaya les-les gitu. Ternyata  di sini diikutkan kejar paket,” cerita Anjeli. 

Dapat mengikuti pendidikan kejar paket, tak pernah terbayang sebelumnya oleh Anjeli. “Tadinya mau sempet nerusin sekolah, tapi umur aku sudah terlalu tua untuk masuk SD,” ujar remaja yang terpaksa putus sekolah saat dirinya menginjak kelas 6 SD. 

Dengan kesempatan mengikuti ujian kejar paket ini, remaja 14 tahun ini berharap ia dan sang adik Aina dapat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. “Kalau Aina mudah-mudahan bisa masuk SMP. Kalau saya mau lanjut kejar paket untuk dapat ijazah SMP, kemudian SMA. Baru kerja,” kata Anjeli. 

Beda lagi dengan Trisna, yang bercita-cita untuk dapat menjadi penghafal Quran. “Kalau sudah dapet ijazahnya, saya ingin meneruskan ke pesantren. Mudah-mudahan ada pesantren yang biayanya terjangkau, kalau bisa yang gratis,” tuturnya.  

Melihat  asa yang terpancar dari anak-anak asuhnya, Ghola berjanji dia dan RPK akan berusaha terus untuk mendampingi mereka. “Melihat mereka saya berdoa, walaupun mereka saat ini  ada diantara tumpukan sampah-sampah, suatu hari nanti mereka akan jadi orang-orang yang berhasil dan mulia,”tutupnya. /ilm