Jakarta [Humas Kankemenag Jakarta Utara] --- Dalam rangka menyambut Tri Suci Waisak 2570 BE, Penyelenggara Buddha Kankemenag Kota Jakarta Utara mengikuti Pindapata Nasional Gema Waisak dan Penuangan Eco Enzyme Bersama. Kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimas Buddha ini dilakukan sebagai wujud bakti kepada bumi. Senin, [11/5/2026].
Disampaikan oleh Mugiyanto, Pindapata adalah tradisi Buddhis kuno di mana para bhikkhu (biksu/biksuni) berjalan kaki membawa mangkuk (patta) untuk menerima persembahan makanan dan kebutuhan pokok dari umat.
"Tradisi ini melambangkan kerendahan hati, kehidupan sederhana bagi anggota Sangha, serta kesempatan bagi umat untuk berdana (berbagi) dan memupuk kebajikan," terangnya.
Kata Mugiyanto, dirinya hadir bersama Penyuluh Agama Buddha Wahyono pada kegiatan yang dibersamai oleh Menteri Agama dan Dirjen Bimas Buddha, Gubernur DKI Jakarta dan sejumlah tokoh lainnya di Kemayoran Jakarta Pusat belum lama ini.
Meneruskan sambutan Menteri Agama, Mugiyanto menuturkan bahwa Pindapata bukan sekedar tradisi keagamaan, tapi juga pelajaran tentang kehidupan. "Memang dalam sambutannya mengajak umat untuk berbagi, melembutkan hati dan menghadirkan keteduhan dalam kehidupan bermasyarakat," kata Mugiyanto, mengutip pesan Menteri Agama.
Lanjut Mugiyanto, acara yang mengusung tema "Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih bagi Negeri" ditandai dengan berjalan kaki meditatif dari Bundaran Mega Glodok Kemayoran [MGK] menuju Bundaran BNI PPKK. Kegiatan ini dihadiri sekitar 75 Bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia dan sekitar 10.000 umat Buddha dari berbagai daerah.
"Sebagai simbol praktik kebajikan, welas asih, kepedulian sosial, dan penguatan nilai spiritual, di mana umat memberikan dana makanan dan kebutuhan pokok kepada para bhikkhu," imbuhnya.
Penyelenggara dan Penyuluh Agama Buddha juga membersamai kegiatan Penuangan Eco Enzyme Bersama, hasil kerjasama Panitia Gema Waisak bersama Kemenag, EEIB (Eco Enzyme Indonesia Bersatu) dan Wandani yang dilakukan secara serentak di 33 Provinsi di Indonesia. Adapun di Jakarta, kegiatan berpusat di Kali Sentiong - Sunter dengan menuangkan 2.570 liter Eco Enzyme Murni ke aliran sungai.
"Hal ini untuk membersihkan air sungai dan meningkatkan kesadaran lingkungan menyambut Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era," imbuhnya.
Sebagai informasi, Eco Enzhyme membantu mengurai polutan kimia dan menjernihkan air sungai yang tercemar. Kali Sentiong secara historis dikenal dengan aromanya yang tidak sedap. Eco Enzyme berfungsi menetralkan bau melalui proses bioremediasi alami.