Jakarta (Humas MIN 17 Kepulauan Seribu) --- Pagi di perairan Kepulauan Seribu pada Jumat, (5/12/2025), belum sepenuhnya hangat ketika suara mesin kapal motor mulai memecah sunyi. Dari tiga pulau berbeda, para guru MIN 17 Kepulauan Seribu bersiap mengarungi laut bukan untuk liburan, melainkan untuk sebuah perjalanan ilmu: mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Deep Learning di Pulau Pramuka.
Dari Pulau Tidung, guru-guru MIN 17 Kepulauan Seribu Kampus A berangkat pukul 09.30 WIB. Ombak kecil mengiringi laju kapal yang bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Wajah-wajah penuh semangat tampak di antara mereka, sebagian menggenggam map materi, sebagian lagi sibuk berdiskusi kecil tentang apa itu “deep learning” yang akan mereka pelajari hari itu.
Perjalanan serupa juga terjadi di Pulau Panggang. Guru-guru MIN 17 Kampus B menaiki kapal menuju Pulau Pramuka. Bagi mereka, waktu di atas laut bukan sekadar perjalanan, melainkan ruang refleksi tentang tanggung jawab besar sebagai pendidik di wilayah kepulauan yang penuh tantangan.
Dari arah lain, kapal yang membawa rombongan guru MIN 17 Kampus C Pulau Kelapa melaju membelah birunya laut. Jarak tempuh yang tidak singkat tak menyurutkan langkah mereka. Percikan air laut sesekali membasahi sisi kapal, seolah menjadi saksi bahwa semangat belajar tak pernah dibatasi jarak.
Menjelang pukul 11.00 WIB, satu per satu rombongan tiba di Aula Al-Jazeera Kantor Kemenag Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka. Suasana aula mulai terasa hidup, diisi sapaan hangat antar guru yang jarang bertemu karena terpisah pulau. Registrasi peserta menjadi momen pertemuan sekaligus pelepas rindu antar pendidik.
Tepat pukul 13.00 WIB, lagu “Indonesia Raya” bergema memenuhi ruangan. Suasana menjadi khidmat, menyatukan langkah para guru yang baru saja menembus jarak dan gelombang. Laporan panitia Jihadi, membuka rangkaian acara dengan penjelasan tujuan workshop sebagai ruang peningkatan mutu guru madrasah.
Sambutan Kepala MIN 17 Kepulauan Seribu, Bahtiaroni, terasa lebih bermakna karena di hadapannya duduk para guru yang telah membayar mahal semangatnya dengan waktu dan tenaga. Ia menegaskan bahwa pembelajaran berbasis cinta bukan sekadar konsep, melainkan napas utama pendidikan, terlebih bagi madrasah di wilayah kepulauan.
Momen puncak pembukaan terjadi saat Kasubag Kemenag Kepulauan Seribu, Abdul Hakim, secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, ia menyebut para guru sebagai “penjaga cahaya di batas-batas laut negeri”, mereka yang mengajarkan anak bangsa meski terpisah ombak dan jarak.
Memasuki sesi materi pukul 13.30 WIB, Saeful selaku Ketua Tim Kerja Kurikulum Penmad Kanwil Kemenag DKI Jakarta, mulai memaparkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning. Ruangan menjadi ruang ilmiah yang hangat, di mana teori bertemu dengan realita para guru pulau yang selama ini mengajar dalam keterbatasan.
Diskusi berjalan hidup. Para guru aktif bertanya, berbagi pengalaman, bahkan menyelipkan kisah-kisah kecil tentang murid-murid mereka yang tetap belajar meski harus berjalan jauh atau menyeberang antarpulau. Bagi mereka, materi yang disampaikan bukan hal yang asing, melainkan cermin dari kehidupan sehari-hari di madrasah mereka.
Saat senja mulai turun dan langit Pulau Pramuka berpendar lembayung, rangkaian kegiatan hari pertama pun berakhir. Para guru tidak langsung kembali ke pulau masing-masing, melainkan menuju penginapan sederhana yang telah disiapkan panitia di Pulau Pramuka, untuk beristirahat sejenak sebelum mengikuti rangkaian materi lanjutan pada malam hari dan kegiatan berbeda yang telah menanti pada keesokan harinya. (j)