TUESDAY, 15 OCT 2019

PEMBIASAAN ITU LUAR BIASA (Upaya Mempertahankan Jatidiri Madrasah)


MAN 22 Jakarta 04 Dec 2018, 13:46


Madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan di Indonesia yang legalitasnya diakui pemerintah. Mendengar kata ‘Madrasah’, masyarakat akan terkoneksi pada lembaga pendidikan yang mengedepankan pada bidang keagamaan dan akhlak. Siswa-siswi madrasah pun dikesankan dengan siswa yang taat beribadah dan berakhlak baik. Hingga kini kesan tersebut masih melekat pada masyarakat kita. Apalagi ketika banyak terjadi tawuran antar siswa dari sekolah yang satu dengan yang lainnya, hingga kini belum menyentuh dan melibatkan siswa madrasah.

       Kesan bahwa siswa madrasah adalah siswa yang taat beribadah (dibandingkan dengan siswa sekolah umum) dan berakhlak baik harus terus dan tetap dipertahankan. Sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah tetap tinggi. Karena sekarang orang tua semakin sadar dan memahami pentingnya pendidikan akhlak, agama bagi putera puterinya. Kecerdasan intelektual, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dibarengi dengan pengetahuan agama yang memadai tak akan memberi manfaat yang maksimal bahkan bisa jadi akan memunculkan akibat buruk bagi diri dan masyarakatnya. Albert Einstein pernah berkata, ‘Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh’.

       Untuk itu madrasah harus berupaya sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk mempertahankan dan meningkatkan kesan positif tersebut. Madrasah harus memprioritaskan upaya tersebut termasuk mengalokasikan anggaran yang cukup untuk mencapainya. Tenaga pendidik dan kependidikan harus memiliki program kerja yang terarah, jelas, dan terukur.

       Jangan sampai karena untuk mensejajarkan lulusan madrasah dengan sekolah umum (SD, SMP, SMA) madrasah kemudian mengabaikan jatidirinya. Madrasah jangan sudah merasa puas dengan porsi materi keagamaan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum mengingat pengaruh lingkungan (terutama pengaruh negative) tidak hanya berada di luar sekolah, rumah, tetapi sudah masuk ‘kamar tidur’.

       Di era digital ini, dimana perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang demikian melesat memang memberikan dampak positif, tetapi efek negatifnya juga tidak sedikit yang bukan tidak mungkin siswa madrasah akan jadi korbannya, yang sangat bisa jadi siswa-siswa kita kemudian  tidak layak disebut sebagai siswa madrasah.

       Beberapa upaya sederhana yang dapat dilakukan madrasah (tenaga pendidik dan kependidikan) untuk membentuk siswa yang berakhlakul karimah adalah :

  1. Menyambut kedatangan siswa

       Siswa akan merasa dibutuhkan, diperhatikan ketika mereka datang ke sekolah disambut oleh guru-guru mereka di depan pintu gerbang. Seseorang yang diperhatikan akan merasa berharga sehingga semangatnya untuk belajar akan meningkat.

       Guru yang menyambut kedatangan siswa juga sekaligus mengontrol dan mmengevaluasi tataaturan kedisiplinan yang diberlakukan untuk siswa. Guru akan mengetahui siswa yang berpakaian tidak sesuai tatatertib sekolah ( baju, celana, rok, jilbab, dll.). Siswa juga dibiasakan menyalami guru dengan bercium tangan (sebuah ungkapan penghormatan siswa pada gurunya). Alangkah indah dan harmonisnya bila kepala madrasah juga terlibat aktif pada kegiatan penyambutan kedatangan siswa sehingga infeknya sulit ditemukan guru yang datang terlambat.

  1. Tadarus, Dluha, Kajian kitab

       Sebelum seluruh siswa mengikuti KBM, siswa dibiasakan lebih dahulu untuk “Berhablummianallah”, mendekatkan diri dengan yan Maha Berilmu, Zat yang membolak-balikan hati, Zat yang memberi keberkahan dalam tiap yang kita miliki. Dengan begitu mudah-mudahan Allah akan memberi kemudahan bagi siswa dan guru dalam menjalani kegiatan belajar-mengajar. Dan diberi keberkahan pada tiap bidang ilmu yang dikuasainya.

       Pembiasaan-pembiasaan itu diharapkan siswa akan terbiasa dan menjadi sebuah kebiasaan dalam keseharian. Guru tentu tidak hanya mengawasi tetapi juga turut mendampingi, menemani, dan terlibat aktif dalam pembiasaan itu. Dengan begitu akan tumbuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kokoh tertanam antara pendidik dan muridnya. Juga alangkah indah dan harmonisnya bila kepala madrsah juga turut membaur dalam kegiatan itu.

       Di atas merupakan upaya sederhana yang dapat atau sudah biasa dilakukan di tiap madrasah. Namun upaya tersebut harus lebih diefektifkan, dimaksimalkan, dijalankan dengan sungguh-sungguh dan tidak hanya sekadar menalankan rutinitas kedinasanan. Tentu masih cukup banyak pembiasaan-pembiasaan lain yang diyakini dapat memberikan pengaruh positif dalam mewujudkan dan membentuk kepribadian siswa yang baik.

       Perlu motivasi kuat dan usaha yang sungguh-sungguh disertai usaha memperbaiki, meningkatkan dan mengevaluasi tiap upaya untuk membentuk siswa madrasah yang berakhlakul karimah.

       Penulis dan kita semua tentu mendambakan siswa-siswa madrasah yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibarengi dengan akhlak yang terpuji. Ke depan masyarakat akan benar-benar mengakui “ Lebih Baik madrasah, Madrasah Lebih baik”.

Penulis : Abdul Rozak, M.Pd


Dibaca: 151 kali